Rabu, 23 November 2016

beda sedikit antara zaman sekarang dengan zaman Rasulullah

23/11/16 21.30 pm
Puasa Rasulullah
Pasti pernah kan mendengar kisah Rasulullah dan ‘Aisyah, ketika Rasulullah mendapati tidak ada bahan makanan yang bisa dimakan maka ketika itu juga Rasulullah berniat puasa. Kisah tersebut diriwayatkan dalam sebuah hadits riwayat muslim dari Aisyah ra.,
Dari ‘Aisyah Ummul Mukminin, ia berkata, “Nabi saw  pernah menemuiku pada suatu hari lantas beliau berkata, “Apakah kalian memiliki sesuatu untuk dimakan?” Kami pun menjawab, “Tidak ada.” Beliau pun berkata, “Kalau begitu saya puasa saja sejak sekarang.” Kemudian di hari lain beliau menemui kami, lalu kami katakan pada beliau, “Kami baru saja dihadiahkan hays (jenis makanan berisi campuran kurman, samin dan tepung).” Lantas beliau bersabda, “Berikan makanan tersebut padaku, padahal tadi pagi aku sudah berniat puasa.” Lalu beliau menyantapnya.” (HR. Muslim no. 1154) disebutkan dalma Kitab Bulughul Maram karya Ibnu Hajar al-Asqalani no. hadits 657
Adapun penjelasan maupun faedah hadits tersebut dapat dilihat di alamat berikut:
kisah tersebut sama pernah terjadi di asrama kami, tepatnya hari rabu malam dan besoknya hari kamis puasa sunnah. Memang sunnah tapi karena di pesantren jadi diwajibkan. Tradisi kami, makanan untuk makan sahur dimasak pada malam harinya. Jadi ketika sahur tinggal memanaskan kembali.  Nah ini ceritanya, ketika malamnya – sekitar pukul 21.30 -  beberapa orang dari kami mau masak nasi untuk sahur besok, untuk lauknya sudah dimasak oleh ibu dapur pada sorenya. Untuk masak nasi bergiliran dari kami, ada jadwalnya masing-masing. Ketika hendak masak nasi itu tadi, ternyata berasnya habis, yang piket sore untuk makan malam lupa memberi tahu kepada orang yang suka berbelanja untuk kami. Karena waktu sudah malam, tidak etis rasanya mengetuk rumah orang ataupun ke warung, karena memang lokasi kami di tengah-tengah kampung – jangan dibayangkan seperti di kota yang ada market 24 jam.
Sudah, karena mengetehui tidak ada beras yang bisa dimasak untuk sahur, langsung anak-anak merengek kepada ustadzah supaya puasanya diliburkan, padahal lauknya sudah dimasak hanya saja tidak ada nasi.
Kita lihat dari dua kisah di atas yaitu kisah Rasulullah dan kisah kami, Cuma beda sedikit to, jika Rasulullah tidak ada bahan makanan yang bisa dimakan kemudian beliau puasa, maka pada zaman sekarang ini khusunya kami, tidak ada beras untuk dimasak maka kemudian tidak jadi puasa, padahal lauk sudah ada. Dan sebenarnya kalau memang berniat puasa masih ada alternatif lain, makan nasi malan ini, misalnya, atau bikin mie instan, wong ada nasi dan lauk saja belum tentu pada sahur, ada yang lebih memilih tidur – karena saking ngantuknya – dari pada sahur. Jadinya bedanya hanya pada kata tidak, jika rasulullah puasa maka kami tidak puasa.
Begitulah sepenggal kisah pengalaman anak pondok, yang akan selalu membekas, tidak akan didapatkan di tempat lain. bersyukur rasanya bisa merasakan nikmat menjadi anak pondok, meski kadang-kadang suka protes dengan segala peraturan yang ada. Mungkin sekarang belum terlihat hasilnya, tapi suatu hari nanti, saya yakin kelak akan sangat bermanfaat dalam kehidupan ini, baik dunia maupun kehidupan akhirat nanti yang merupakan hakikat kehidupan yang sebenarnya.





Senin, 07 November 2016

belajar Nulis

01:12pm, Fri 10/Apr/2015

Dalam sebuah teori menulis yangg dikemukakan Habiburahman el-Sirazy (itu loh novelis best seller) bahwa untuk menulis butuh inspirasi (tentu saja). Bagaimana cara mendapat inspirasi?. Disinilah beliau mengatakan bahwa inspirasi itu dikejar bukan ditunggu. Batin saya bilang bagaimana caranya mengejar inspirasi, masih mending mengejar maling jelas, ketangkap trus digebukin. Lah ini inspirasi yg dikejar, tau bentuknya aja kagak mau sok-sokan ngejar, abstrak broh (emg dasar saya orang awam!).

Beliau (sang novelis) mengibaratkan penulis itu sebagai nelayan dan inspirasi adalah ikannya. Ada nelayan yang berdiam diri menunggu ikan datang, kira-kira dapet nggak? Dapat, tapi jarang dan kemungkinan kecil. Kemudian ada nelayan yang aktif ke tengah lautan untuk mencari ikan, dapatkah? Pikir aja sendiri :-P

ya begitulah kira-kiranya, penulis dan inspirasinya.

Adapun hal-hal yang dapat memotivasi untuk menulis antara lain:
1.       Motivasi karena Allah.
Jelas. Niat ikhlas untuk mencari Ridha Allah
2.       Sebagai amal jariyah.
sebagai muslim yg berjiwa bisnis dengan orientasi keuntungan akhirat seharusnya ini bisa menjadi super motivator. Bagaimana tidak, meski nyawa telah terpisah dari raga, tapi pahala masih terus mengalir selama tulisan masih dibaca orang lain (tentu saja tulisan yang bermanfaat untuk orang lain)
3.       Semangat ulama-ulama terdahulu
Sebut saja al-Ghazali, al-Farabi, Avicenna, dkk yang bahkan ditransformasi kedunia barat yang mungkin mempengaruhi peradaban dunia. Coba bayangkan, seandinya tulisanmu mampu mempengaruhi peradaban dunian, keren gak sih? Eits stop berkhayal, bersiaplah berlari mengejar inspirasi >_-
Contoh lain adalah, kekalahan Amerika atas Vietnam dalam perang, tidak banyak yang tau bahwa itu dsebabkan oleh tulisan anak bangsa, jendral AH Nasution yang menulis buku 'Pokok Pokok Perang Gerilya' yang kemudian mempengaruhi para pejuang Vietnam dalam praktek perang gerilya hingga mengalahkan Amerika yang merupakan negara super power (bayangkan negara sekaliber Amerika kalah oleh negara ecek di Asia)
4.    (ini teori yg sering saya dengar - tapi saya lupa siapa yang menyampaikan) sepintar apapun dirimu, kalo tidak menulis pasti tergilas zaman (coba kembangkan kalimat tersebut menjdi sebuah paragraf yang bermakna, hehe. Padune saya tidak bisa menjelaskan lagi - inspirasi mulai menguap brsama kantuk :-P)
5.    Menulis sebagai dakwah juga bisa, dakwah tidak hanya untuk para ustadz. Dakwah bisa juga melalui tulisan nggak cuma melalui mimbar. Karena setiap kita adalah pendakwah (bagi diri sendiri dan orang lain) wajib bagi kita untuk ber-Amar Ma’ruf Nahi Munkar (karena merekaitu lah orang-orang yang beruntung – QS. ali-Imaran/3: 104). Siapa tahu orang yang baru saja membaca tulisanmu langsung taubat (mungkin), kan keren tuh.
6.      Dan seterusnya, seterusnya dan seterusnya..

Kembali tentang inspirasi, sekedar informasi saja:

Kang Abik menulis novel 'Pudarnya Pesona Cleopatra' inspirasi hanya dari membaca koran, novel 'Ketika Cinta Brtasbih' berawal dari segelintir cerita mahasiswa di indonesia, novel 'Api Tauhid' yang tebalnya 573 halaman diselesaikan dalam 3 bulan, dan lain sebagainya. Bedalah yaw penulis profesional dengan penulis amatiran, tapi apa salahnya belajar dan mencoba.

Bagaimana menurutmu? Leave comment.. (mungkin komentar anda bisa menjadi artikel tersendiri :->) :-D











Minggu, 06 November 2016

Psikologi Pendidikan

Psikologi Pendidikan #edisiUTS 05/11/2016  09.00 pm

Di awal semester 5, ketika melihat jadwal kuliah (mata kuliah, jumlah sks, dan jadwal kuliah sudah ditentukan dari sononya, tinggal mematuhinya), disitu tertera mata kuliah Psikologi Pendidikan, respon saya excited, karena memang saya suka yang berbau-bau psikologi, filsafat (psikologi termasuk cabang dari filsafat), dan teman-temannya itu.

Oke, ketika sudah mulai aktif kuliah, hand out sudah di tangan, dua atau tiga kali pertemuan sudah lewat, pikir saya kok materi psikologi pendidikan gini amat yak(?). menurut saya “aneh”, “membosankan” dan lain sebagainya dalam tanda kutip.

Setengah semester berlalu, akhirnya tiba juga Ujian Tengah Semester (UTS). Jujur saja, saya nggak niat belajar sama sekali, endak membayangkan nanti soal UTS-nya seperti apa dari materi yang “aneh” itu. Jadi saya cuma baca-baca sekilas print out materi dari ustadz (dosen), nggak berusaha untuk memahami, apa lagi menghafal. Baca saja, entah itu paham atau endak, itu pun endak selesai dari sekitar 126 slide selama 7x pertemuan (bobot sks 9). Pikir saya mungkin nanti soalnya analisis, endak perlu menghafal (sama sekali), hanya butuh pemahaman (padahal baca materi juga gak paham-paham juga)
Jeng-jeng, waktunya ujian, ba’da isya’ sampai jam 21.00. Dan ternyata soalnya nggak jauh dari materi yang di print out dan apa yang dijelaskan di kelas. Batin saya langsung, tau gitu lebih serius lagi belajarnya, cermati betul-betul baca materinya. Tapi ya syudah lah, memang kebiasannya seperti itu dari tahun ke tahun, sudah tahu kalau belajar pasti bisa ngerjain soal, tapi ya tetep nggak kapok-kapok, diulangi terus seperti itu *kapan taubat.

Saya coba kerjakan satu per satu, saya jawab sebisa saya, seingat saya waktu membaca materi tadi dan seingat saya waktu dijelaskan di kelas. Beruntung di kelas itu, saya jarang tidur, sekali dua kali tidur, selebihnya melek, tapi ngak sepenuhnya memperhatikan, usil sendiri untuk mengusir rasa bosan. Tapi mendingan lah, masih bisa dengerin dikit-dikit. Hasilnya lumayan – lumayan ngawur – tapi semua soal terjawab semua.

Kalau menurut saya, untuk materi ini nggak perlu belajar ngoyo, cukup dengerin baik-baik di kelas, catet hal-hal yang perlu dicatet. Dan nanti ketika ujian belajar secukupnya, sekilas saja mungkin juga bisa – saya rasa. Sebenarnya bukan cuma untuk mata kuliah ini, berlaku juga untuk mata kuliah-mata kuliah yang lain, asal perhatiin aja baik-baik di kelas, semua akan baik-baik saja (apanya?). Beres lah pokoknya.

Dan sebenarnya teori tersebut ada dalam materi kuliah Psikologi Pendidikan tentang energy psikis – yang jumlah semuanya ada sepuluh[1] - diantaranya ada pengamatan dan tanggapan. Pengamatan adalah Mengenal dunia riil baik dirinya maupun dunia sekitarnya dengan menggunakan panca indra (itu pengertian secara ilmiah saja, sederhananya, proses mengamati, melihat, mendengar dan atau  memperhatikan lingkungan sekitar). Sedangkan Tanggapan adalah Bayangan yang tinggal dalam ingatan setelah kita melakukan pengamatan. Menanggap adalah melakukan kembali sesuatu perbuatan atau melakukan sebelumnya sesuatu perbuatan tanpa hadirnya obyek fungsi primer yang merupakan dasar modalitas pengamatan. Intinya tanggapan adalah hasil dari pengamatan (gitu aja). 
Proses terjadinya tanggapan:
Pengamatan= mengenal objek PI à Bayangan pengiring= Bayangan tetap tinggal à Bayangan eiditik[2]= seakan riel (anak2) à Tanggapan= kesan dalam memori kita à Pengertian=  konsep yang dpt disimpulkan.

Setelah terjadi tanggapan memudian akan diperoleh pengertian. Tanggapan akan mempengaruhi pengertian (Insighty) yg diperoleh. Fungsi tanggapan: (a) Tergantung kuat tidaknya rangsang pengamatan kita. (b) Tanggapan akan membentuk pengertian dan pemahaman. (c) Menentukan kuat tidaknya memori.

Sedangakan hubungan keduanya (pengamatan dan tanggapan) adalah Tanggapan berkorelasi dengan pengamatan (makin baik pengamatan makin baik tanggapan.

Jadi, semakin baik kita dalam mengamati maka semakin kuat dan baik ingatan terhadap sesuatu yang kita amati tersebut. Seperti itulah proses kita dalam belajar - secara khusus, dan dalam kehidupan harian – secara umum. Jadi memang benar-benar terjadi (berdasar pengalaman saya sendiri, sebenarnya sudah lama saya amati seperti itu, sejak SMP ^_^)

Sehingga, marilah kita sadar (wahai diri), jangan tidur terus di kelas, belajar baik-baik untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. jangan menyepelekan ilmu sedikit pun, sekecil apa pun, karena pasti kelak (suatu hari – entah kapan) akan bermanfaat.
Nah ini ternyata manfaat dan penerapan psikologi pendidikan, yang tadi kau (saya) bilang “aneh”. Weheheh *ampun pak dosen.

Dan selanjutnya dalam materi Psikologi pendidikan akan dijelaskan tentang ingat, lupa dan asosiasi, yang merupakan kelanjutan dari pengamatan dan tanggapan. Disitu disebutkan apa saja yang mempengaruhi ingat dan lupa, tapi tidak saya tulis disini berhubung sudah ngantuk, waktunya tidur dan besuk masih ada ujian mata kuliah lain (UTS itu makan yang banyak, tidur yang cukup, belajar semampunya, wkwk).

Well, bye, wassalam*

*gara-gara nulis ini saya jadi nggak belajar buat ujian besok pagi T.T but, All is well

NB: kepada pak dosen Psikologi Pendidikan, Ustadz Hadjam Murusdi, terimakasih atas ilmunya J




[1] (1) Pengamatan, tanggapan, fantasi, (2) ingatan, lupa, dan asosiasi, (3) perhatian, (4) berpikir, (5) intelegensi, (6) perasaan dan emosi, (7) motive dan tingkah laku, (8) kepribadian, (9) sugesti dan (10) kelelahan
[2] Merupakan bayangan yang sangat jelas dan hidup, sehingga menyerupai pengamatan. Bayangan eiditik terdapat pada anak-anak dan menghilang dengan datangnya masa pubertas.

Sabtu, 22 Oktober 2016

Hari Santri Nasional

Pernah Santri (everlasting santri) ..

Gara gara Hari Santri Nasional (22 Oktober) berdasarkan Keputusan Presiden No.22/2015 – terlepas dari pro dan kontranya – gara gara peringatan hari nasional itu, temen saya bilang “jadi kangen suasana pondok”. Jadi temen saya ini pernah jadi santri di sebuah pondok pesantren gitu (bareng-bareng sama saya juga), dan sekarang dah lulus sekolah kemudian melanjutkan kuliah seperti pada umumnya (anak kos, men). Tahu sendiri kan kehidupan anak kuliah itu seperti apa, dan anak kos itu seperti apa, yang jelas sangat berbeda dengan kehidupan santri di pondok, bahkan mungkin kebalikannya 180 derajat. Yang dulu di asrama penuh dengan aturan, melanggar sedikit kena sanksi, dan lain-lainya yang dianggap nggak enak, membosankan, penuh tekanan dan sebagainya (yang sebenarnya masih banyak keseruan lain yang hanya bisa dirasakan oleh pelaku – santri). Sekarang bandingkan dengan kehidupan di kos, bebas – lepas (kayak di pantai >_<), yang dulu merupakan impian anak-anak pondok (sebagian sih, endak semuanya). Tapi kenyataannya, yang sudah mengalami kehidupan kos, kangen juga sama kehidupan pondok – seperti temen saya itu – mungkin mereka baru ngerasain: Bahwasanya peraturan itu dibuat untuk menciptakan perdamaian dan ketentraman bagi yang menaatinya (sok banget ya, kayak nggak pernah melanggar aja, haha). Jadi sebenarnya dulu ketika ditegur atau pun dinasehati (yang kesannya cerewet itu) sama ustadz/ ustadzah ataupun musyrif/ musyrifah ketika di pondok dulu, merupakan suatu bentuk cinta (wahaha) dan perhatian, Intinya demi kebaikan sendiri lah ya. Ketika semua itu sudah tidak ada, baru ngerasain kesepian (*eh).
Sebenarnya yang ingin saya katakana adalah, Siapa saja yang masih merasakan kehidupan asrama (dan segala tetek bengeknya), disaat yang lain sudah terbang bebas di luar: Bersyukurlah. Karena belum tentu yang bebas itu bahagia apalagi yang jomblo (nggak ada hubungannya bro) – sebenarnya peringatan bagi diri sendiri yang suka mengeluh dengan kehidupan (pondok) ini. Just enjoy your life, nggak selamanya kok kita di pondok terus, ada saatnya kita keluar, dan ketika itu sudah terjadi, bakalan susah kembali ke masa-masa itu (karena kita sudah tua, inget umur ya nak!). Berfikir saja: bahwasanya kita beruntung pernah mengalami masa-masa (sulit) ini, nggak semuanya bisa merasakan apa yang kita rasakan sekarang. And I think, it’s an interest experience and the best teacher (>_--). Lagi- lagi (dan nggak bosen-bosen) tentang bersyukur.
Nikmat mondok mana lagi yang kamu dustakan?


Tentang Pro - Kontra (saya rasa perlu dicantumin disini)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, menyatakan Muhammadiyah keberatan dengan penetapan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional. Muhammadiyah menilai penetapan Hari Santri Nasional dapat mengganggu ukhuwah umat Islam lewat polarisasi santri-nonsantri yang selama ini mulai mencair.
"Muhammadiyah secara resmi berkeberatan dengan Hari Santri," kata Haedar Nashir kepada Republika, Sabtu (17/10).
Menurut Haedar, Muhammadiyah tidak ingin umat Islam makin terpolarisasi dalam kategorisasi santri dan nonsantri. Hari Santri akan menguatkan kesan eksklusif di tubuh umat dan bangsa. Padahal, selama ini santri-nonsantri makin mencair dan mengarah konvergensi. "Untuk apa membuat seremonial umat yang justru membuat kita terbelah," ujarnya. 
Apalagi, lanjut Haedar, hari yang dipilih sangat ekskusif dan milik satu kelompok Islam. Hal itu kian menambah kesenjangan yang berpotensi mengganggu ukhuwah umat Islam.
Haedar mengakuti pemerintah dan kelompok Islam bisa saja memaksakan diri menetapkan Hari Santri 22 Oktober karena memang memiliki otoritas. Namun, ia berharap pemerintah arif dalam mengayomi seluruh komponen bangsa.
Haedar menilai umat Islam masih memiliki banyak urusan strategis yang harus dipecahkan bersama.  "Hari besar Islam penting, tapi jauh lebih penting untuk mengagendakan pemecahan bersama sejumlah persoalan besar, seperti kemiskinan umat, ketertinggalan iptek, dan sebagainya. Energi jangan dihabiskan untuk hal-hal yang kontroversial dan kontraproduktif," kata Haedar menegaskan.

KOMPASIANA -- Nahdlatul Ulama beserta puluhan Ormas Islam lainnya akan menginisiasi Hari Santri Nasional (HSN) yang diperingati tiap tanggal 22 Oktober sebagai wujud penghormatan pada jasa-jasa kaum Santri sebagai pejuang kemerdekaan. Dari puluhan Ormas Islam yang bergabung, hanya Muhammadiyah saja yang tidak ikut.   
Menanggapi hal itu, Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir menyampaikan pandangan nya terkait hal tersebut.   
"PP Muhammadiyah dalam kajian nya belum memandang perlu adanya hari santri. Pertimbangan nya ialah hal tersebut cenderung eksklusif. Kita sudah cukup banyak hari-hari besar Islam yang bisa di manfaatkan," katanya usai Pengajian Bulanan di kantor PP Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat, Jum'at (9/10) malam.   
Menurut Haedar, sapaan akrab Ketum PP Muhammadiyah itu, nantinya kita juga sibuk memakai rujukan hari apa yang umat Islam pakai.    "Jadi lebih baik menurut saya umat Islam berpikir lebih produktif kedepan, memikirkan hal-hal yang lebih strategis. kita hargai keinginan itu, tentunya hal itu sangat baik. Tetapi ada yang lebih produktif yang perlu kita pikirkan mengenai masa depan umat Islam dan masa depan bangsa, seperti bagaimana meningkatkan daya saing, meningkatkan kualitas SDM, membenahi bahkan memajukan ekonomi umat, itu prinsipnya ya," ujarnya.   
Kendati demikian, Muhammadiyah tetap menghargai setiap usulan-usulan yang ingin dilakukan terkait HSN. Namun, dikatakan oleh Haedar, organisasi yang dipimpin nya telah memiliki sikap yang jelas terkait hal ini.   
"Kita menghargai setiap usul-usul seperti itu. Tapi pandangan Muhammadiyah memandang tidak perlu adanya Hari Santri Nasional karena nanti diluar itu dikhawatirkan ada hari yang lain lagi seperti hari abangan, dan yang lain lagi. Nantinya malah terlalu banyak hari. Kita tetap menghargai, tetapi kita mengajak seluruh komponen umat Islam dan bangsa Indonesia untuk berpikir lebih strategis kedepan," tuturnya.   
Sekedar informasi, PB NU berencana merayakan HSN yang diperingati tiap tanggal 22 Oktober. Menurut Ketua Umum PB NU, Said Aqil Siradj, pada prinsipnya Presiden RI Joko Widodo telah menyetujui adanya HSN, hanya saja yang sedang di diskusikan mengenai penetapan tanggal pelaksanaan nya.    
Sebelumnya, Presiden Jokowi menginginkan HSN diperingati tiap tanggal 1 Muharram, namun PB NU kurang menyepakati tanggal tersebut dan menginginkan tanggal 22 Oktober sebagai HSN.


Berikut adalah isi surat Din Syamsuddin yang dikutip dari situs resmi PP Muhammadiyah yang dipublikasikan pada 17 Oktober 2015:

Yth: Bapak Presiden Jokowi
Sehubungan berita bahwa pada 22 Okt 2015 Pemerintah akan nyatakan sebagai Hari Santri Nasional,
izinkan saya menyampaikan hal-hal berikut:
  1. Adalah tidak tepat, taktis dan strategis adanya Hari Santri Nasional, karena hal itu dapat mengganggu persatuan bangsa. Dikotomi Santri-Abangan adalah upaya intelektual orang luar untuk memecahbelah umat Islam dengan mengukuhkan gejala budaya yang sesungguhnya bisa berubah (process of becoming) tersebut.
  2. Sejak beberapa waktu lalu Alm. Bapak Taufik Kiemas, yang kami dukung, berupaya untuk mencairkan dikotomi tersebut, termasuk mencairkan dikotomi Islamisme-Nasionalisme. Salah satu pengejawantahannya adalah didirikannya Bamusi di lingkungan PDIP. Adanya Hari Santri Nasional berpotensi mengganggu upaya luhur tadi. Menguatnya “Kaum Santri” bisa mendorong menguatnya “Kaum Abangan”. Tentu Pemerintah akan kerepotan jika ada desakan utk adanya Hari Abangan Nasional.
  3. Apalagi Hari Santri Nasional dikaitkan dengan tanggal dan peristiwa tertentu (Resolusi Jihad 22 Okt), adalah penyempitan/reduksi jihad para pahlawan yang sudah dimulai ber-abad2 sebelumnya termasuk sebelum kemerdekaan yang lebih bersifat luas, bukan dikaitkan dengan kelompok tertentu. Juga, penekanan pada resolusi jihad yang lebih berona fisikal/harbi menjadi pemghambat upaya jihad selama ini ke arah lebih luas (jihad iqtishadi/ekonomi, jihad ‘ilmi/iptek, jihad i’lami/informasi).
  4. Hari Nasional (kecuali hari-hari besar keagamaan), haruslah menjadi hari bagi semua elemen bangsa. Maka kalau terpaksa harus ada Hari Santri (karena fait-a-compli politik pada saat Pilpres), mungkin bisa dicari tanggal lain, dan Hari Santri dengan inti kesantrian bisa dikaitkan dengan Pancasila, khususnya Sila Pertama. Dalam hal ini, kesantrian adalah buah pengamalam Ketuhanan Yang Maha Esa.

Terima kasih. Salam takzim,
Din Syamsuddin.

Senin, 26 September 2016

Edmund Husserl dan Fenomenologinya

Sekilas tentang Edmund Husserl dan Pemikirannya
Oleh Qurrata A’yun
1.      Pendahuluan
                   Mempelajari filsafat tidak akan lepas dari bagaimana filsafat itu muncul. Sekitar abad IX SM atau paling tidak tahun 700 SM di Yunani, Sophia diberi arti kebijaksanaan juga berarti kecakapan. Kata philosophos mula-mula dikemukakan dan dipergunakan oleh Heraklitos (540-480 SM). Menurutnya, philosophos (ahli filsafat) harus mempunyai pengetahuan luas sebagai pengejawantahan daripada kecintaannya akan kebenaran, dan mulai benar-benar jelas digunakan pada kaum Sofis dan Sokrates yang memberi arti philosophein[1] sebagai penguasaan secara sistematis terhadap pengetahuan teoritis.[2]
                   Sejarah filsafat menunjukkan bahwa setelah timbulnya seorang filsuf timbul kemudian filsuf yang lain, yang mengajukan gagasan yang memperbaharui gagasan yang pertama.[3] Pada umumnya pada bagian pertama abad ke-20 terdapat bermacam-macam aliran yang berdiri sendiri-sendiri. Pada zaman paroh pertama abad ke-20 ini umpamanya terdapat aliran pragmatisme di Inggris dan Amerika yang meragukan kekuasaan akal dan ilmu pengetahuan positif, sedang di Perancis dan Jerman terdapat filsafat hidup dan fenomenologi yang memberikan pengaruh yang besar di Eropa dan Amerika, dan aliran filsafat lainnya.[4]
                   Dalam makalah ini, sedikit banyak akan membahas filsafat fenomenologi khususnya Edmund Husserl (1859-1938) yang merupakan pelopor filsafat fenomenologi. Istilah fenomenologi pernah dipakai juga oleh Immanuel Kant dan G.W.F. Hegel, akan tetapi filsafat fenomenologi yang akan kita bicarakan ini dalam arti yang khas, yaitu sebagai metode berpikir tertentu. Filsafat fenomenologi berusaha untuk mencapai pengertian yang sebenarnya atau “hakikat segala sesuatu”[5] dengan menerobos semua fenomen
                   Adapun tujuan makalah ini disusun adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah “Pengantar Filsafat” yang diampu oleh Ustadz Anton Ismunanto.

2.      Pembahasan
A.    Riwayat hidup Edmund Husserl (1859-1938)
             Lahir di kota Prosznitz di daerah Moravia (sejak akhir perang dunia pertama (1918) sampai sekarang termasuk Cekoslowakia). Masa muda dilaluinya dengan belajar astronomi dan matematika di Leipzig dan Berlin tempat ia memperoleh gelar doktor dalam bidang matematika. Semula ia belajar ilmu pasti di Wina, kemudian ia berpindah studi ke filsafat (1884-1886).[6] Minatnya untuk filsafat dibangkitkan oleh kuliah Franz Brentano.[7] Pengaruh Brentano atas pemikiran Husserl dapat dilihat dalam pemikiran filsafat Husserl khususnya ajaran tentang intensionalitas.[8]
             Husserl meraih gelar “doktor filsafat” dengan sebuah disertasi tentang filsafat matematika yang berjudul Beitra gezur Variationsrechmung (1883). Sesudah itu ia menjadi dosen (Privatdozent) di Halle (1887-1901).[9] Di situ ia meneruskan penelitiannya dan sebagai hasil studinya diterbitkan buku Philosophie der Arithmetik  (1891) (filsafat ilmu berhitung). Sepuluh tahun kemudian Husserl merevisi pemikirannya tentang filsafat matematika, antara lain karena kritik G. Frege – filsuf dan matematikus ternama – atas buku yang disebut tadi. Selain mengajar di Universitas Halle, ia juga menjadi guru di Gottingen (1901-1916) dan Freiburg (I.B) (1916).[10] Ia mendapat pengakuan internasional waktu mengajar di Freiburg.[11] Termasuk di antara mahasiswa-mahasiswanya adalah Max Scheller dan Martin Heidegger.[12]
             Pada akhir hidupnya Husserl mengalami kesulitan dari pihak nazisme Jerman, karena ia keturunan Yahudi. Ia dilarang menginjak kampus Universitas Freiburg, demikian juga anaknya. Kewarganegaraan Jermannya dicabut, tetapi atas usahanya akhirnya dipulihkan. Banyak cendekiawan Yahudi mengungsi ke luar negeri, tetapi Husserl menolak meninggalkan Jerman. Sesudah hampir setahun menderita sakit, ia meninggal dunia di Freiburg pada tanggal 27 April 1938 dalam usia 79 tahun.

B.     Karya Husserl
Banyak sekali karya-karyanya, akan tetapi belum semuanya diterbitkan. Beberapa karya Husserl yang pernah diterbitkan selama hidup adalah:
-        Filsafat Aritmatik (1891)
-        Penyelidikan Logika, dua jilid (1900-1991) atau Logische Untersuchungen, boleh dianggap buku ini sebagai permulaan fenomenologinya. Dalam jilid pertama ia mengkritik psikologisme dalam filsafat tentang logika.[13]
-        Ide mengenai fenomenologi murni dan sebuah filsafat fenomenologi, jilid 1 (1913). Jilid 2 dan 3 (1952) atau ideen zu einer reinen phanomenologie
-        Krisis Ilmu Pengetahuan & Fenomenologi Transendental  (1929), tetapi hanya sebagian terbit sewaktu ia masih hidup.
-        Pengalaman Dan Pertimbangan (1930) atau  erfahrung und urteil.
-        Filsafat Sebagai Ilmu Rigorus  atau Philosophie als strenge Wissenchaft (1911).
Saat meninggal, Husserl meninggalkan sekitar 50.000 lembar tulisan berupa naskah, catata kuliah, surat serta dokumen pribadi.[14] Arsip-arsip tersebut kemudian diterbitkan, diantaranya adalah: Ide mengenai Fenomenologi (1950), Filsafat Pertama, Psikologi Fenomenologis (1956), Fenomenologi Kesadaran Waktu Mengenai Waktu (1966), Analisis Sintesis Pasif (1966), Pengalaman dan Keputusan (1939), Dunia Saya dan Waktu (1955)[15]
Sampai akhir hidupnya Husserl mempunyai kebiasaan berpikir sambil menulis dengan menggunakan tulisan stenografis[16]. Ketika Husserl masih hidup, transkripsi tulisan stenografi ke dalam tulisan biasa sudah dimulai oleh asisten-asistennya (Edith Stein, Ludwig Landgrebe, dan Eugen Fink) tetapi hanya sedikit diselesaikan oleh mereka.[17]

C.    “Arsip Husserl” di Leuven
Tidak lama sesudah kematian Husserl, Pater H.L. Van Breda O.F.M. tiba di Freiburg untuk mempelajari naskah Husserl untuk persiapan disertasinya tentang fenomenologi. Dengan persutujuan Nyonya Husserl, seluruh harta pusaka karangan Husserl dipindah ke Universitas Leuven (Belgia). Alasannya adalah semua tulisannya terancam bahaya akan disita oleh penguasa nasional – sosialis, karena merupakan warisan filsuf Yahud. Pemindahan ini menjadi permulaan berdirinya “Arsip Husserl” di Leuven, dimana terdapat dokumentasi terbesar dalam sejarah dikumpulkannya tentang para filsuf yang dikunjungi oleh banyak filsuf yang berminat pada fenomenologi. Pada tahun 1980, “Arsip Husserl” menerbitkan inedita (teks-teks yang belum pernah diterbitkan oleh pengarang sendiri) sebanyak 23 jilid yang disebut dengan edisi husserliana. Arsip juga menerbitkan seri Phaenomenologica pada tahun 1978 sebanyak 78 jilid.[18]

D.    Pemikiran Filosofis
Husserl merumuskan cita-citanya ingin mendasari filsafat sebagai suatu ilmu yang rigorous (rigorous science) dan kepada ilmu ini ia beri nama “fenomenologi”.  Fenomenologi adalah ilmu pengetahuan (logos) tentang yang tampak (phainomenon). Jadi fenomenologi mempelajari apa yang tampak atau yang menampakkan diri atau fenomen.[19]
Menurut Husserl, perhatian filsafat hendaklah difokuskan pada penyelidikan tentang lebenswelt (dunia kehidupan) atau erlebnisse (kehidupan subyektif dan batiniah). Karena dunia tidak dapat memberikan kebenaran yang pasti, maka kita perlu mencarinya dalam erlebnisse (pengalaman yang sadar). Fenomenologi Husserl berangkat dari konsep intensionalitas. Semua kesadaran merujuk pada suatu isi, entah itu nyata atau khayalan. Contoh kasusnya adalah seseorang yang takut pada hantu. Orang yang takut pada hantu adalah kenyataan, tidak peduli apakah kita percaya pada hantu atau tidak.
Hussserl menjelaskan bahwa intensionalitas pikiran seseorang tidak dapat memisahkan kondisi kesadaran (contohnya adalah rasa takut) dari obyek kesadaran itu (hantu). Keduanya (takut dan hantu) adalah aspek dari fenomenologi tunggal, sehingga Husserl menyimpulkan bahwa kesadaran adalah “perhatian terhadap obyek”. Karena pengetahuan terhadap sesuatu diperoleh melaui perhatian kesadaran terhadap obyek, ilmu pengetahuan diperoleh dengan cara sadar bermaksud untuk menguasai ilmu pengetahuan itu. Maksud secara sadar untuk mengetahuai itulah, meminjam istilah dari Kant, yang disebut “prakondisi yang diperlukan untuk menguasai ilmu pengetahuan melaui pengalaman” (the necessary preconditions of experience).
Husserl kemudian menyadari bahwa dirinya menghadapi masalah ketidakpastian terhadap “dunia luar” yang diamati, sama seperti yang dialami Descartes sehingga Descartes menyimpulkan cogito ergo sum (saya berpikir, maka saya ada).
Fenomenologi (menurut Husserl) merupakan metodologi dan filsafat. Sebagai metode, fenomenologi membentangkan langkah-langkah yang harus diambil sehingga sampai pada fenomena yang murni dengan cara harus membebaskan diri dari pengalaman serta gambaran kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, fenomenologi dapat dijelaskan sebagai metode kembali kepada benda itu sendiri, dengan menerobos semua fenomenon yang menampakkan diri menuju kepada bendanya yang sebenarnya. Aspek fenomenologi Husserl yang berusaha menggali perangkat hukum kesadaran manusiawi yang esensial serta kait-mengait disebut “fenomenologi Transendental”.[20] Usaha untuk mencapai pengertian yang sebenarnya dinamakan mencapai “hakikat segala sesuatu”
Adapun usaha untuk mencapai hakikat segala sesuatu dapat melaui reduksi atau penyaringan yang terdiri dari 3 tahap, yaitu
1.      Reduksi fenomenologi, harus menyaring pengalaman-pengalaman dengan maksud mendapat fenomena dalam wujud yang murni. Kita harus melepaskan benda-benda tersebut dari pandangan-pandangan lain (agama, adat, ilmu pengetahuan, dan ideologi).
2.      Reduksi eidetis, menyaring atu penempatan dalam tanda kurung sebagai hal yang bukan eidos atau intisari atau hakikat fenomena. Hasil reduksi eidetis ialah kita sampai pada hakikat sesuatu.
3.      Reduksi tansendental, kita sampai pada subyek murni. Semua yang tidak ada hubungannya dengan kesadaran murni harus dikurungkan. Dari obyek itu akhirnya orang sampai kepada apa yang ada pada subyek sendiri. Dengan kata lain, metode fenomenologi itu diterapkan karena subyeknya sendiri, pada perbuatannya, dan pada keasadaran yang murni.[21] Yang harus ditempatkan di antara tanda kurung dahulu ialah eksistensi dan segala sesuatu yang tiada hubungan timbal balik dengan kesadaran murni, agar supaya dari obyek itu orang sampai kepada apa yang ada pada subyek sendiri dan kepada perbuatannya, kepada kesadaran yang murni.[22]
Kebanyakan murid Husserl tidak menerima reduksi ini, tetapi untuk Husserl sendiri reduksi merupakan batu sendi seluruh filsafatnya. Dengan mempraktekkan reduksi ini kita masuk “sikap fenomenologi”. Berlainan dengan pemikiran Descartes, Husserl tanpa lelah menggali semakin dalam untuk mencari pendasaran terakhir bagi kesadaran dan realitas. Husserl mengatakan bahwa dirinya adalah ein ewige Anfanger (seorang pemula abadi). Jika ia terbentur pada kesulitan baru, ia tidak membuang pemikirannya sebelumnya, tetapi seluruh permasalahannya diselidiki kembali pada taraf yang lebih mendalam. Itulah sebabnya, mengapa filsafat Husserl begitu sulit untuk diuraikan, apalagi dalam bentuk singkat.[23]
Istilah lain yang sering dipakai Husserl (selain fenomen dan intensional) adalah “konstitusi” (Inggris: constitution), yaitu proses tampaknya fenomen-fenomen kepada kesadaran atau aktivitas kesadaran yang memungkinkan tampaknya realitas. Husserl mengatakan bahwa dunia real dikonstitusi oleh kesadaran.[24] Dalam sikap fenomenologis, dunia ditemukan sebagai korelat bagi kesadaran, dunia sebagai fenomen.

Metodologi fenomenologi
Untuk memahami filsafat Husserl, ada beberapa kata kunci yang perlu diketahui:
1.      Fenomena adalah realitas esensi atau dalam fenomena terkandung pula nomena (sesuatu yang berada di balik fenomena),[25]
2.      Pengamatan adalah aktifitas spiritual atau ruhani,
3.      Kesadaran adala suatu intensional (terbuka dan terarah pada subyek),
4.      Substansi adalah konkret yang menggambarkan isi dan struktur kenyataan dan sekaligus bisa terjangkau.
Dalam memahami fenomena, Husserl menekankan satu hal penting: penundaan keputusan. Keputusan harus ditunda (epoche) atau dikurung (bracketing) dulu untuk memahami fenomena, sampai akhirnya fenomena itu dapat menampakkan dirinya sendiri. Misalnya, kita ingin mengembangkan analisis fenomenologi mengenai “perilaku politik kiai”. Maka kita harus menunda atau melepaskan dulu semua keputusan atau pengetahuan tentang kiai (missal kiai itu suci, pengetahuan agamanya luas, tawaduk dan lain sebagainya) dan kita mengarah perhatian kita pada perilaku yang tampak pada kesadaran yang kita alami.  Apabila kita dapat melakukan ini, kita akan sampai pada perilaku politik yang sesungguhnya.[26]
Dalam pengalaman yang dengan sadar ini kita mengalami diri kita sendiri atau “aku” yang senantiasa berhubungan dengan dunia luar dengan situasi jasmaniyah tertentu, misalnya: aku sedang duduk, membaca, bercakap-cakap, dan lain sebagainya. Di situ kita akan bertemu dengan pengalaman “aku”. Tetapi perlu dipikirkan aku empiris yang tidak murni karena bergaul dengan dunia benda. “Aku” ini harus dikurung dan kemudian kita menuju aku murni yang mengatasi semua pengalaman Transendental .[27]
E.     Penutup
Husserl menekankan bahwa filsafat seharusnya berproses seperti ilmu pengetahuan pada umumnya, yaitu berangkat dari topik dan masalah yang nyata dan bukan hanya studi terhadap filsafat orang lain. Meskipun begitu, Hussserl juga memahami bahwa urusan ilmiah filsafat bukan suatu yang empiris, tetapi lebih pada eksplorasi konseptual dari persepsi, kepercayaan, penilaian, dan proses mental lainnya. Seperti halnya Descartes, Husserl mempercayai bahwa filsafat pada dasarnya merupakan urusan rasionalitas yang dimulai dari kepercayaan seseorang dan bersifat subyektif. Dengan refleksi dari berbagai kesadaran orang tersebut, Husserl percaya bahwa fenomenologi mampu menjadi dasar bagi semua ilmu pengetahuan, seperti imu pengetahuan ilmiah dan eksak[28]
Demikianlah filsafat fenomenologi yang dikemukakan Husserl ini bermuara dalam suatu idealisme Transendental . Tidak semua filsuf fenomenologi berpendapat demikian. Pada umunya mereka realistis.
Tidak dapat disangkal, bahwa pengaruh Husserl besar sekali, baik di bidang filsafat maupun di bidang ilmu pengetahuan positif. Metode fenomenologis menyebabkan timbulnya persoalan persoalan baru yang berguna.[29]




[1] Philosophia adalah hasil dari perbuatan yang disebut philosophein, sedangkan philosophos adalah orang yang melakukan philosophein
[2]Sumber: http://makalahzaki.blogspot.co.id/2011/10/filsafat-barat.html?m=1 diakses pada: 24/12/15, 21:00 WIB
[3] Harun Hadiwijoyo, Sari Sejarah Filsafat Barat 1, Yogyakarta, Kanisius 2000, h. 8
[4] Harun Hadiwijoyo, Sari Sejarah Filsafat Barat 2, Yogyakarta, Kanisius 2000, h. 130
[5] Ali Maksum, Pengantar Filsafat, Yogyakarta, Ar-Ruzz Media 2012, h. 187
[6] Ibid, h. 189
[7] seorang filsuf yang memainkan peranan penting di Universitas Wina waktu itu.  Dalam filsafatnya, franz menggabungkan pemikiran Skolastik dengan empirisme (doktrin yang menyebutkan bahwa segala pengetahuan bisa didapatkan hanya dengan melalui pengalaman, bukan berdasarkan logika dan matematika). Tidak sulit untuk memperlihatkan pengaruh Brentano atas pemikiran Husserl di kemudian hari, khususnya ajaran tentang intensionalitas, intensionalitas adalah struktur hakiki kesadaran, kesadaran ditandai oleh intensionalitas. Intensionalitas dan fenomenon adalah korelatif.
[8] K. Bertens, Filsafat Barat Abad XX Inggris-Jerman, Jakarta, PT Gramedia Jakarta 1981, h. 94
[9] Privatdozent adalah nama yang dipakai di universitas-universitas Jerman untuk seorang dosen yang diizinkan mengajar di universitas tetapi tidak diberi gaji oleh universitas. Ia hidup dari kuliah-kuliah yang diberikannya.
[10] Harun Hadiwijoyo, Sari Sejarah Filsafat Barat 2, Yogyakarta, Kanisius 2000, h. 140
[11] K. Bertens, Filsafat Barat Abad XX Inggris-Jerman, Jakarta, Gramedia 1981, h. 97
[12] Ali Maksum, Pengantar Filsafat, Yogyakarta, Ar-Ruzz Media 2012, h. 189
[13] K. Bertens, Filsafat Barat Abad XX Inggris-Jerman, Jakarta, Gramedia 1981, h. 95
[14] Ibid, h. 98
[15] Ali Maksum, Pengantar Filsafat, Yogyakarta, Ar-Ruzz Media 2012, h. 189
[16] dikenal sebagai Gabelsberger stenografi
[17] K. Bertens, Filsafat Barat Abad XX Inggris-Jerman, Jakarta, Gramedia 1981, h. 98
[18] Ibid, h. 98
[19] Ibid, h. 100
[20] Ali Maksum, Pengantar Filsafat, Yogyakarta, Ar-Ruzz Media 2012, h. 191
[21] Ibid, h. 192
[22] Fenomenologi sebagai suatu ilmu rigorus rigorus tidak boleh mengandung keraguan atau ketidak-pastian. Akan tetapi kriteria rigorus tidak pernah terpenuhi dalam ucapan-ucapan kita tentang dunia real. Suatu benda material tidak pernah diberikan kepada kita secara apodiktis dan absolute, maka dibutuhkan reduksi sebagai salah satu cara untuk mencapai “hakikat segala sesuatu”
[23] K. Bertens, Filsafat Barat Abad XX Inggris-Jerman, Jakarta, Gramedia 1981, h. 100
[24] Ibid, h. 102
[25] Sedang menurut Kant, manusia hanya mengenal fenomenon dan bukan numenon, kita hanya mengenal fenomen-fenomen (erscheinungen) dan bukan realitas itu sendiri (das Ding an sich). Kita hanya mengenal pengalaman batin kita sendiri yang diakibatkan oleh relitas di luar yang tetap tinggal suatu x yang tidak kita kenal. Sebagai contoh, melihat warna merah adalah pencerapan (sensation) – pengalaman batin – yang diakibatkan oleh sesuatu di luar.
[26] Ali Maksum, Pengantar Filsafat, Yogyakarta, Ar-Ruzz Media 2012, h. 191
[27] Ibid, h. 193
[28] Kumara Ari Yuana, The Greatest Philosophers, Yogyakarta, ANDI 2010, hal. 287
[29] Harun Hadiwijoyo, Sari Sejarah Filsafat Barat 2, Yogyakarta, Kanisius 2000, h. 144