Sekilas tentang
Edmund Husserl dan Pemikirannya
Oleh Qurrata A’yun
1.
Pendahuluan
Mempelajari filsafat tidak akan lepas dari
bagaimana filsafat itu muncul. Sekitar abad IX SM atau paling tidak tahun 700
SM di Yunani, Sophia diberi arti kebijaksanaan juga berarti kecakapan. Kata
philosophos mula-mula dikemukakan dan dipergunakan oleh Heraklitos (540-480
SM). Menurutnya, philosophos (ahli filsafat) harus mempunyai pengetahuan luas
sebagai pengejawantahan daripada kecintaannya akan kebenaran, dan mulai benar-benar
jelas digunakan pada kaum Sofis dan Sokrates yang memberi arti philosophein[1] sebagai penguasaan
secara sistematis terhadap pengetahuan teoritis.[2]
Sejarah
filsafat menunjukkan bahwa setelah timbulnya seorang filsuf timbul kemudian
filsuf yang lain, yang mengajukan gagasan yang memperbaharui gagasan yang
pertama.[3]
Pada umumnya pada bagian pertama abad ke-20 terdapat bermacam-macam aliran yang
berdiri sendiri-sendiri. Pada zaman paroh pertama abad ke-20 ini umpamanya
terdapat aliran pragmatisme di Inggris dan Amerika yang meragukan kekuasaan
akal dan ilmu pengetahuan positif, sedang di Perancis dan Jerman terdapat
filsafat hidup dan fenomenologi yang memberikan pengaruh yang besar di Eropa
dan Amerika, dan aliran filsafat lainnya.[4]
Dalam
makalah ini, sedikit banyak akan membahas filsafat fenomenologi khususnya
Edmund Husserl (1859-1938) yang merupakan pelopor filsafat fenomenologi.
Istilah fenomenologi pernah dipakai juga oleh Immanuel Kant dan G.W.F. Hegel,
akan tetapi filsafat fenomenologi yang akan kita bicarakan ini dalam arti yang
khas, yaitu sebagai metode berpikir tertentu. Filsafat fenomenologi berusaha
untuk mencapai pengertian yang sebenarnya atau “hakikat segala sesuatu”[5] dengan
menerobos semua fenomen
Adapun
tujuan makalah ini disusun adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah “Pengantar
Filsafat” yang diampu oleh Ustadz Anton Ismunanto.
2.
Pembahasan
A. Riwayat
hidup Edmund Husserl (1859-1938)
Lahir di kota Prosznitz di daerah
Moravia (sejak akhir perang dunia pertama (1918) sampai sekarang termasuk
Cekoslowakia). Masa muda dilaluinya dengan belajar astronomi dan matematika di
Leipzig dan Berlin tempat ia memperoleh gelar doktor dalam bidang matematika.
Semula ia belajar ilmu pasti di Wina, kemudian ia berpindah studi ke filsafat (1884-1886).[6] Minatnya
untuk filsafat dibangkitkan oleh kuliah Franz Brentano.[7] Pengaruh
Brentano atas pemikiran Husserl dapat dilihat dalam pemikiran filsafat Husserl khususnya
ajaran tentang intensionalitas.[8]
Husserl meraih gelar “doktor
filsafat” dengan sebuah disertasi tentang filsafat matematika yang berjudul Beitra
gezur Variationsrechmung (1883). Sesudah itu ia menjadi dosen
(Privatdozent) di Halle (1887-1901).[9] Di
situ ia meneruskan penelitiannya dan sebagai hasil studinya diterbitkan buku Philosophie
der Arithmetik (1891) (filsafat ilmu
berhitung). Sepuluh tahun kemudian Husserl merevisi pemikirannya tentang filsafat
matematika, antara lain karena kritik G. Frege – filsuf dan matematikus ternama
– atas buku yang disebut tadi. Selain mengajar di Universitas Halle, ia juga
menjadi guru di Gottingen (1901-1916) dan Freiburg (I.B) (1916).[10]
Ia mendapat pengakuan internasional waktu mengajar di Freiburg.[11]
Termasuk di antara mahasiswa-mahasiswanya adalah Max Scheller dan Martin Heidegger.[12]
Pada akhir hidupnya Husserl
mengalami kesulitan dari pihak nazisme Jerman, karena ia keturunan Yahudi. Ia
dilarang menginjak kampus Universitas Freiburg, demikian juga anaknya. Kewarganegaraan
Jermannya dicabut, tetapi atas usahanya akhirnya dipulihkan. Banyak cendekiawan
Yahudi mengungsi ke luar negeri, tetapi Husserl menolak meninggalkan Jerman.
Sesudah hampir setahun menderita sakit, ia meninggal dunia di Freiburg pada
tanggal 27 April 1938 dalam usia 79 tahun.
B.
Karya Husserl
Banyak sekali karya-karyanya, akan tetapi belum semuanya
diterbitkan. Beberapa karya Husserl yang pernah diterbitkan selama hidup
adalah:
-
Filsafat Aritmatik (1891)
-
Penyelidikan Logika, dua jilid
(1900-1991) atau Logische Untersuchungen, boleh dianggap buku ini sebagai
permulaan fenomenologinya. Dalam jilid pertama ia mengkritik psikologisme dalam
filsafat tentang logika.[13]
-
Ide mengenai fenomenologi murni dan
sebuah filsafat fenomenologi, jilid 1 (1913). Jilid 2 dan 3 (1952) atau ideen
zu einer reinen phanomenologie
-
Krisis Ilmu Pengetahuan &
Fenomenologi Transendental (1929), tetapi
hanya sebagian terbit sewaktu ia masih hidup.
-
Pengalaman Dan Pertimbangan (1930)
atau erfahrung und urteil.
-
Filsafat Sebagai Ilmu Rigorus atau Philosophie als strenge Wissenchaft
(1911).
Saat meninggal, Husserl meninggalkan sekitar 50.000 lembar tulisan
berupa naskah, catata kuliah, surat serta dokumen pribadi.[14]
Arsip-arsip tersebut kemudian diterbitkan, diantaranya adalah: Ide mengenai
Fenomenologi (1950), Filsafat Pertama, Psikologi Fenomenologis
(1956), Fenomenologi Kesadaran Waktu Mengenai Waktu (1966), Analisis Sintesis
Pasif (1966), Pengalaman dan Keputusan (1939), Dunia Saya dan Waktu
(1955)[15]
Sampai akhir hidupnya Husserl mempunyai kebiasaan berpikir sambil menulis
dengan menggunakan tulisan stenografis[16]. Ketika
Husserl masih hidup, transkripsi tulisan stenografi ke dalam tulisan biasa
sudah dimulai oleh asisten-asistennya (Edith Stein, Ludwig Landgrebe, dan Eugen
Fink) tetapi hanya sedikit diselesaikan oleh mereka.[17]
C.
“Arsip Husserl”
di Leuven
Tidak lama sesudah kematian Husserl, Pater H.L. Van Breda O.F.M.
tiba di Freiburg untuk mempelajari naskah Husserl untuk persiapan disertasinya
tentang fenomenologi. Dengan persutujuan Nyonya Husserl, seluruh harta pusaka
karangan Husserl dipindah ke Universitas Leuven (Belgia). Alasannya adalah semua
tulisannya terancam bahaya akan disita oleh penguasa nasional – sosialis, karena
merupakan warisan filsuf Yahud. Pemindahan ini menjadi permulaan berdirinya
“Arsip Husserl” di Leuven, dimana terdapat dokumentasi terbesar dalam sejarah
dikumpulkannya tentang para filsuf yang dikunjungi oleh banyak filsuf yang
berminat pada fenomenologi. Pada tahun 1980, “Arsip Husserl” menerbitkan inedita
(teks-teks yang belum pernah diterbitkan oleh pengarang sendiri) sebanyak 23
jilid yang disebut dengan edisi husserliana. Arsip juga menerbitkan seri
Phaenomenologica pada tahun 1978 sebanyak 78 jilid.[18]
D.
Pemikiran Filosofis
Husserl merumuskan cita-citanya ingin mendasari filsafat sebagai suatu
ilmu yang rigorous (rigorous science) dan kepada ilmu ini ia beri
nama “fenomenologi”. Fenomenologi adalah
ilmu pengetahuan (logos) tentang yang tampak (phainomenon). Jadi fenomenologi
mempelajari apa yang tampak atau yang menampakkan diri atau fenomen.[19]
Menurut Husserl, perhatian filsafat hendaklah difokuskan pada
penyelidikan tentang lebenswelt (dunia kehidupan) atau erlebnisse
(kehidupan subyektif dan batiniah). Karena dunia tidak dapat memberikan kebenaran
yang pasti, maka kita perlu mencarinya dalam erlebnisse (pengalaman yang
sadar). Fenomenologi Husserl berangkat dari konsep intensionalitas. Semua
kesadaran merujuk pada suatu isi, entah itu nyata atau khayalan. Contoh
kasusnya adalah seseorang yang takut pada hantu. Orang yang takut pada hantu
adalah kenyataan, tidak peduli apakah kita percaya pada hantu atau tidak.
Hussserl menjelaskan bahwa intensionalitas pikiran seseorang tidak
dapat memisahkan kondisi kesadaran (contohnya adalah rasa takut) dari obyek
kesadaran itu (hantu). Keduanya (takut dan hantu) adalah aspek dari
fenomenologi tunggal, sehingga Husserl menyimpulkan bahwa kesadaran adalah
“perhatian terhadap obyek”. Karena pengetahuan terhadap sesuatu diperoleh
melaui perhatian kesadaran terhadap obyek, ilmu pengetahuan diperoleh dengan
cara sadar bermaksud untuk menguasai ilmu pengetahuan itu. Maksud secara sadar
untuk mengetahuai itulah, meminjam istilah dari Kant, yang disebut “prakondisi
yang diperlukan untuk menguasai ilmu pengetahuan melaui pengalaman” (the
necessary preconditions of experience).
Husserl kemudian menyadari bahwa dirinya menghadapi masalah
ketidakpastian terhadap “dunia luar” yang diamati, sama seperti yang dialami
Descartes sehingga Descartes menyimpulkan cogito ergo sum (saya
berpikir, maka saya ada).
Fenomenologi (menurut Husserl) merupakan metodologi dan filsafat.
Sebagai metode, fenomenologi membentangkan langkah-langkah yang harus diambil
sehingga sampai pada fenomena yang murni dengan cara harus membebaskan diri
dari pengalaman serta gambaran kehidupan sehari-hari. Dengan demikian,
fenomenologi dapat dijelaskan sebagai metode kembali kepada benda itu sendiri, dengan
menerobos semua fenomenon yang menampakkan diri menuju kepada bendanya yang
sebenarnya. Aspek fenomenologi Husserl yang berusaha menggali perangkat hukum kesadaran
manusiawi yang esensial serta kait-mengait disebut “fenomenologi Transendental”.[20]
Usaha untuk mencapai pengertian yang sebenarnya dinamakan mencapai “hakikat
segala sesuatu”
Adapun usaha untuk mencapai hakikat segala sesuatu dapat melaui
reduksi atau penyaringan yang terdiri dari 3 tahap, yaitu
1.
Reduksi fenomenologi, harus
menyaring pengalaman-pengalaman dengan maksud mendapat fenomena dalam wujud
yang murni. Kita harus melepaskan benda-benda tersebut dari pandangan-pandangan
lain (agama, adat, ilmu pengetahuan, dan ideologi).
2.
Reduksi eidetis, menyaring atu
penempatan dalam tanda kurung sebagai hal yang bukan eidos atau intisari atau
hakikat fenomena. Hasil reduksi eidetis ialah kita sampai pada hakikat sesuatu.
3.
Reduksi tansendental, kita sampai
pada subyek murni. Semua yang tidak ada hubungannya dengan kesadaran murni
harus dikurungkan. Dari obyek itu akhirnya orang sampai kepada apa yang ada
pada subyek sendiri. Dengan kata lain, metode fenomenologi itu diterapkan
karena subyeknya sendiri, pada perbuatannya, dan pada keasadaran yang murni.[21]
Yang harus ditempatkan di antara tanda kurung dahulu ialah eksistensi dan
segala sesuatu yang tiada hubungan timbal balik dengan kesadaran murni, agar
supaya dari obyek itu orang sampai kepada apa yang ada pada subyek sendiri dan
kepada perbuatannya, kepada kesadaran yang murni.[22]
Kebanyakan murid Husserl tidak menerima reduksi ini, tetapi untuk
Husserl sendiri reduksi merupakan batu sendi seluruh filsafatnya. Dengan
mempraktekkan reduksi ini kita masuk “sikap fenomenologi”. Berlainan dengan
pemikiran Descartes, Husserl tanpa lelah menggali semakin dalam untuk mencari
pendasaran terakhir bagi kesadaran dan realitas. Husserl mengatakan bahwa
dirinya adalah ein ewige Anfanger (seorang pemula abadi).
Jika ia terbentur pada kesulitan baru, ia tidak membuang pemikirannya
sebelumnya, tetapi seluruh permasalahannya diselidiki kembali pada taraf yang
lebih mendalam. Itulah sebabnya, mengapa filsafat Husserl begitu sulit untuk
diuraikan, apalagi dalam bentuk singkat.[23]
Istilah lain yang sering dipakai Husserl (selain fenomen dan
intensional) adalah “konstitusi” (Inggris: constitution), yaitu proses
tampaknya fenomen-fenomen kepada kesadaran atau aktivitas kesadaran yang
memungkinkan tampaknya realitas. Husserl mengatakan bahwa dunia real
dikonstitusi oleh kesadaran.[24] Dalam
sikap fenomenologis, dunia ditemukan sebagai korelat bagi kesadaran, dunia
sebagai fenomen.
Metodologi
fenomenologi
Untuk memahami
filsafat Husserl, ada beberapa kata kunci yang perlu diketahui:
1.
Fenomena adalah realitas esensi atau
dalam fenomena terkandung pula nomena (sesuatu yang berada di balik fenomena),[25]
2.
Pengamatan adalah aktifitas
spiritual atau ruhani,
3.
Kesadaran adala suatu intensional
(terbuka dan terarah pada subyek),
4.
Substansi adalah konkret yang
menggambarkan isi dan struktur kenyataan dan sekaligus bisa terjangkau.
Dalam memahami fenomena, Husserl menekankan satu hal penting:
penundaan keputusan. Keputusan harus ditunda (epoche) atau dikurung
(bracketing) dulu untuk memahami fenomena, sampai akhirnya fenomena itu dapat
menampakkan dirinya sendiri. Misalnya, kita ingin mengembangkan analisis
fenomenologi mengenai “perilaku politik kiai”. Maka kita harus menunda atau
melepaskan dulu semua keputusan atau pengetahuan tentang kiai (missal kiai itu
suci, pengetahuan agamanya luas, tawaduk dan lain sebagainya) dan kita mengarah
perhatian kita pada perilaku yang tampak pada kesadaran yang kita alami. Apabila kita dapat melakukan ini, kita akan sampai
pada perilaku politik yang sesungguhnya.[26]
Dalam
pengalaman yang dengan sadar ini kita mengalami diri kita sendiri atau “aku”
yang senantiasa berhubungan dengan dunia luar dengan situasi jasmaniyah
tertentu, misalnya: aku sedang duduk, membaca, bercakap-cakap, dan lain
sebagainya. Di situ kita akan bertemu dengan pengalaman “aku”. Tetapi perlu
dipikirkan aku empiris yang tidak murni karena bergaul dengan
dunia benda. “Aku” ini harus dikurung dan kemudian kita menuju aku murni
yang mengatasi semua pengalaman Transendental .[27]
E.
Penutup
Husserl
menekankan bahwa filsafat seharusnya berproses seperti ilmu pengetahuan pada
umumnya, yaitu berangkat dari topik dan masalah yang nyata dan bukan hanya
studi terhadap filsafat orang lain. Meskipun begitu, Hussserl juga memahami
bahwa urusan ilmiah filsafat bukan suatu yang empiris, tetapi lebih pada
eksplorasi konseptual dari persepsi, kepercayaan, penilaian, dan proses mental
lainnya. Seperti halnya Descartes, Husserl mempercayai bahwa filsafat pada
dasarnya merupakan urusan rasionalitas yang dimulai dari kepercayaan seseorang
dan bersifat subyektif. Dengan refleksi dari berbagai kesadaran orang tersebut,
Husserl percaya bahwa fenomenologi mampu menjadi dasar bagi semua ilmu
pengetahuan, seperti imu pengetahuan ilmiah dan eksak[28]
Demikianlah
filsafat fenomenologi yang dikemukakan Husserl ini bermuara dalam suatu
idealisme Transendental . Tidak semua filsuf fenomenologi berpendapat demikian.
Pada umunya mereka realistis.
Tidak
dapat disangkal, bahwa pengaruh Husserl besar sekali, baik di bidang filsafat
maupun di bidang ilmu pengetahuan positif. Metode fenomenologis menyebabkan
timbulnya persoalan persoalan baru yang berguna.[29]
[1] Philosophia adalah hasil dari perbuatan yang disebut
philosophein, sedangkan philosophos adalah orang yang melakukan philosophein
[2]Sumber: http://makalahzaki.blogspot.co.id/2011/10/filsafat-barat.html?m=1 diakses pada:
24/12/15, 21:00 WIB
[3] Harun Hadiwijoyo, Sari Sejarah Filsafat Barat 1,
Yogyakarta, Kanisius 2000, h. 8
[4] Harun Hadiwijoyo, Sari Sejarah Filsafat Barat
2, Yogyakarta, Kanisius 2000, h. 130
[5] Ali Maksum, Pengantar Filsafat, Yogyakarta,
Ar-Ruzz Media 2012, h. 187
[6] Ibid, h. 189
[7] seorang filsuf yang memainkan peranan penting di
Universitas Wina waktu itu. Dalam
filsafatnya, franz menggabungkan pemikiran Skolastik dengan empirisme (doktrin yang menyebutkan bahwa segala
pengetahuan bisa didapatkan hanya dengan melalui pengalaman, bukan berdasarkan
logika dan matematika). Tidak sulit
untuk memperlihatkan pengaruh Brentano atas pemikiran Husserl di kemudian hari,
khususnya ajaran tentang intensionalitas, intensionalitas adalah struktur
hakiki kesadaran, kesadaran ditandai oleh intensionalitas. Intensionalitas dan fenomenon
adalah korelatif.
[8] K. Bertens, Filsafat Barat Abad XX Inggris-Jerman,
Jakarta, PT Gramedia Jakarta 1981, h. 94
[9] Privatdozent adalah nama yang dipakai di
universitas-universitas Jerman untuk seorang dosen yang diizinkan mengajar di
universitas tetapi tidak diberi gaji oleh universitas. Ia hidup dari
kuliah-kuliah yang diberikannya.
[10] Harun Hadiwijoyo, Sari Sejarah Filsafat Barat 2,
Yogyakarta, Kanisius 2000, h. 140
[11] K. Bertens, Filsafat Barat Abad XX Inggris-Jerman,
Jakarta, Gramedia 1981, h. 97
[12] Ali Maksum, Pengantar Filsafat, Yogyakarta, Ar-Ruzz
Media 2012, h. 189
[13] K. Bertens, Filsafat Barat Abad XX Inggris-Jerman,
Jakarta, Gramedia 1981, h. 95
[14] Ibid, h. 98
[15] Ali Maksum, Pengantar Filsafat, Yogyakarta,
Ar-Ruzz Media 2012, h. 189
[16] dikenal sebagai Gabelsberger stenografi
[17] K. Bertens, Filsafat Barat Abad XX Inggris-Jerman,
Jakarta, Gramedia 1981, h. 98
[18] Ibid, h. 98
[19] Ibid, h. 100
[20] Ali Maksum, Pengantar Filsafat, Yogyakarta,
Ar-Ruzz Media 2012, h. 191
[21] Ibid, h. 192
[22] Fenomenologi sebagai suatu ilmu rigorus rigorus tidak
boleh mengandung keraguan atau ketidak-pastian. Akan tetapi kriteria rigorus
tidak pernah terpenuhi dalam ucapan-ucapan kita tentang dunia real. Suatu benda
material tidak pernah diberikan kepada kita secara apodiktis dan absolute, maka
dibutuhkan reduksi sebagai salah satu cara untuk mencapai “hakikat segala
sesuatu”
[23] K. Bertens, Filsafat Barat Abad XX Inggris-Jerman,
Jakarta, Gramedia 1981, h. 100
[25] Sedang menurut Kant, manusia hanya mengenal fenomenon
dan bukan numenon, kita hanya mengenal fenomen-fenomen (erscheinungen) dan
bukan realitas itu sendiri (das Ding an sich). Kita hanya mengenal pengalaman
batin kita sendiri yang diakibatkan oleh relitas di luar yang tetap tinggal
suatu x yang tidak kita kenal. Sebagai contoh, melihat warna merah adalah
pencerapan (sensation) – pengalaman batin – yang diakibatkan oleh sesuatu di
luar.
[26] Ali Maksum, Pengantar Filsafat, Yogyakarta,
Ar-Ruzz Media 2012, h. 191
[27] Ibid, h. 193
[28] Kumara Ari Yuana, The Greatest Philosophers,
Yogyakarta, ANDI 2010, hal. 287


dari Husserl ini saya belajar:
BalasHapus1. Husserl mempunyai kebiasaan berpikir sambil menulis. /menuliskan apa yang kita pikirkan juga penting bro, sapa tau bermanfaat bagi orang lain
2. Jika Husserl terbentur pada kesulitan baru, ia tidak membuang pemikirannya sebelumnya, tetapi seluruh permasalahannya diselidiki kembali pada taraf yang lebih mendalam. /intinya jangan cepet nyerah men, pikirkan dulu baik-baik kalo punya masalah
3. begitulah kira-kira X_X sulit memahaminya