Psikologi Pendidikan #edisiUTS
05/11/2016 09.00 pm
Di
awal semester 5, ketika melihat jadwal kuliah (mata kuliah, jumlah sks, dan
jadwal kuliah sudah ditentukan dari sononya, tinggal mematuhinya), disitu
tertera mata kuliah Psikologi Pendidikan, respon saya excited, karena memang
saya suka yang berbau-bau psikologi, filsafat (psikologi termasuk cabang dari
filsafat), dan teman-temannya itu.
Oke,
ketika sudah mulai aktif kuliah, hand out sudah di tangan, dua atau tiga kali
pertemuan sudah lewat, pikir saya kok materi psikologi pendidikan gini amat
yak(?). menurut saya “aneh”, “membosankan” dan lain sebagainya dalam tanda
kutip.
Setengah
semester berlalu, akhirnya tiba juga Ujian Tengah Semester (UTS). Jujur saja,
saya nggak niat belajar sama sekali, endak membayangkan nanti soal
UTS-nya seperti apa dari materi yang “aneh” itu. Jadi saya cuma baca-baca
sekilas print out materi dari ustadz (dosen), nggak berusaha untuk
memahami, apa lagi menghafal. Baca saja, entah itu paham atau endak, itu
pun endak selesai dari sekitar 126 slide selama 7x pertemuan (bobot sks
9). Pikir saya mungkin nanti soalnya analisis, endak perlu menghafal
(sama sekali), hanya butuh pemahaman (padahal baca materi juga gak paham-paham
juga)
Jeng-jeng,
waktunya ujian, ba’da isya’ sampai jam 21.00. Dan ternyata soalnya nggak jauh
dari materi yang di print out dan apa yang dijelaskan di kelas.
Batin saya langsung, tau gitu lebih serius lagi belajarnya, cermati betul-betul
baca materinya. Tapi ya syudah lah, memang kebiasannya seperti itu dari tahun
ke tahun, sudah tahu kalau belajar pasti bisa ngerjain soal, tapi ya tetep
nggak kapok-kapok, diulangi terus seperti itu *kapan taubat.
Saya
coba kerjakan satu per satu, saya jawab sebisa saya, seingat saya waktu membaca
materi tadi dan seingat saya waktu dijelaskan di kelas. Beruntung di kelas itu,
saya jarang tidur, sekali dua kali tidur, selebihnya melek, tapi ngak
sepenuhnya memperhatikan, usil sendiri untuk mengusir rasa bosan. Tapi
mendingan lah, masih bisa dengerin dikit-dikit. Hasilnya lumayan – lumayan
ngawur – tapi semua soal terjawab semua.
Kalau
menurut saya, untuk materi ini nggak perlu belajar ngoyo, cukup dengerin
baik-baik di kelas, catet hal-hal yang perlu dicatet. Dan nanti ketika ujian
belajar secukupnya, sekilas saja mungkin juga bisa – saya rasa. Sebenarnya
bukan cuma untuk mata kuliah ini, berlaku juga untuk mata kuliah-mata kuliah
yang lain, asal perhatiin aja baik-baik di kelas, semua akan baik-baik saja
(apanya?). Beres lah pokoknya.
Dan
sebenarnya teori tersebut ada dalam materi kuliah Psikologi Pendidikan tentang
energy psikis – yang jumlah semuanya ada sepuluh[1]
- diantaranya ada pengamatan dan tanggapan. Pengamatan adalah Mengenal
dunia riil baik dirinya maupun dunia sekitarnya dengan menggunakan panca indra
(itu pengertian secara ilmiah saja, sederhananya, proses mengamati, melihat,
mendengar dan atau memperhatikan
lingkungan sekitar). Sedangkan Tanggapan adalah Bayangan yang tinggal
dalam ingatan setelah kita melakukan pengamatan. Menanggap adalah melakukan
kembali sesuatu perbuatan atau melakukan sebelumnya sesuatu perbuatan tanpa
hadirnya obyek fungsi primer yang merupakan dasar modalitas pengamatan. Intinya
tanggapan adalah hasil dari pengamatan (gitu aja).
Proses terjadinya tanggapan:
Pengamatan= mengenal objek PI à Bayangan pengiring= Bayangan
tetap tinggal à Bayangan
eiditik[2]=
seakan riel (anak2) à Tanggapan=
kesan dalam memori kita à Pengertian=
konsep yang dpt disimpulkan.
Setelah
terjadi tanggapan memudian akan diperoleh pengertian. Tanggapan akan
mempengaruhi pengertian (Insighty) yg diperoleh. Fungsi tanggapan: (a) Tergantung
kuat tidaknya rangsang pengamatan kita. (b) Tanggapan akan membentuk pengertian
dan pemahaman. (c) Menentukan kuat tidaknya memori.
Sedangakan
hubungan keduanya (pengamatan dan tanggapan) adalah Tanggapan berkorelasi
dengan pengamatan (makin baik pengamatan makin baik tanggapan.
Jadi,
semakin baik kita dalam mengamati maka semakin kuat dan baik ingatan terhadap
sesuatu yang kita amati tersebut. Seperti itulah proses kita dalam belajar -
secara khusus, dan dalam kehidupan harian – secara umum. Jadi memang
benar-benar terjadi (berdasar pengalaman saya sendiri, sebenarnya sudah lama
saya amati seperti itu, sejak SMP ^_^)
Sehingga,
marilah kita sadar (wahai diri), jangan tidur terus di kelas, belajar baik-baik
untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. jangan
menyepelekan ilmu sedikit pun, sekecil apa pun, karena pasti kelak (suatu hari
– entah kapan) akan bermanfaat.
Nah
ini ternyata manfaat dan penerapan psikologi pendidikan, yang tadi kau (saya)
bilang “aneh”. Weheheh *ampun pak dosen.
Dan
selanjutnya dalam materi Psikologi pendidikan akan dijelaskan tentang ingat,
lupa dan asosiasi, yang merupakan kelanjutan dari pengamatan dan tanggapan.
Disitu disebutkan apa saja yang mempengaruhi ingat dan lupa, tapi tidak saya
tulis disini berhubung sudah ngantuk, waktunya tidur dan besuk masih ada ujian
mata kuliah lain (UTS itu makan yang banyak, tidur yang cukup, belajar
semampunya, wkwk).
Well, bye, wassalam*
*gara-gara
nulis ini saya jadi nggak belajar buat ujian besok pagi T.T but, All is well
NB:
kepada pak dosen Psikologi Pendidikan, Ustadz Hadjam Murusdi, terimakasih atas
ilmunya J
[1] (1)
Pengamatan, tanggapan, fantasi, (2) ingatan, lupa, dan asosiasi, (3) perhatian,
(4) berpikir, (5) intelegensi, (6) perasaan dan emosi, (7) motive dan tingkah
laku, (8) kepribadian, (9) sugesti dan (10) kelelahan
[2] Merupakan
bayangan yang sangat jelas dan hidup, sehingga menyerupai pengamatan. Bayangan
eiditik terdapat pada anak-anak dan menghilang dengan datangnya masa pubertas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar