Minggu, 06 November 2016

Psikologi Pendidikan

Psikologi Pendidikan #edisiUTS 05/11/2016  09.00 pm

Di awal semester 5, ketika melihat jadwal kuliah (mata kuliah, jumlah sks, dan jadwal kuliah sudah ditentukan dari sononya, tinggal mematuhinya), disitu tertera mata kuliah Psikologi Pendidikan, respon saya excited, karena memang saya suka yang berbau-bau psikologi, filsafat (psikologi termasuk cabang dari filsafat), dan teman-temannya itu.

Oke, ketika sudah mulai aktif kuliah, hand out sudah di tangan, dua atau tiga kali pertemuan sudah lewat, pikir saya kok materi psikologi pendidikan gini amat yak(?). menurut saya “aneh”, “membosankan” dan lain sebagainya dalam tanda kutip.

Setengah semester berlalu, akhirnya tiba juga Ujian Tengah Semester (UTS). Jujur saja, saya nggak niat belajar sama sekali, endak membayangkan nanti soal UTS-nya seperti apa dari materi yang “aneh” itu. Jadi saya cuma baca-baca sekilas print out materi dari ustadz (dosen), nggak berusaha untuk memahami, apa lagi menghafal. Baca saja, entah itu paham atau endak, itu pun endak selesai dari sekitar 126 slide selama 7x pertemuan (bobot sks 9). Pikir saya mungkin nanti soalnya analisis, endak perlu menghafal (sama sekali), hanya butuh pemahaman (padahal baca materi juga gak paham-paham juga)
Jeng-jeng, waktunya ujian, ba’da isya’ sampai jam 21.00. Dan ternyata soalnya nggak jauh dari materi yang di print out dan apa yang dijelaskan di kelas. Batin saya langsung, tau gitu lebih serius lagi belajarnya, cermati betul-betul baca materinya. Tapi ya syudah lah, memang kebiasannya seperti itu dari tahun ke tahun, sudah tahu kalau belajar pasti bisa ngerjain soal, tapi ya tetep nggak kapok-kapok, diulangi terus seperti itu *kapan taubat.

Saya coba kerjakan satu per satu, saya jawab sebisa saya, seingat saya waktu membaca materi tadi dan seingat saya waktu dijelaskan di kelas. Beruntung di kelas itu, saya jarang tidur, sekali dua kali tidur, selebihnya melek, tapi ngak sepenuhnya memperhatikan, usil sendiri untuk mengusir rasa bosan. Tapi mendingan lah, masih bisa dengerin dikit-dikit. Hasilnya lumayan – lumayan ngawur – tapi semua soal terjawab semua.

Kalau menurut saya, untuk materi ini nggak perlu belajar ngoyo, cukup dengerin baik-baik di kelas, catet hal-hal yang perlu dicatet. Dan nanti ketika ujian belajar secukupnya, sekilas saja mungkin juga bisa – saya rasa. Sebenarnya bukan cuma untuk mata kuliah ini, berlaku juga untuk mata kuliah-mata kuliah yang lain, asal perhatiin aja baik-baik di kelas, semua akan baik-baik saja (apanya?). Beres lah pokoknya.

Dan sebenarnya teori tersebut ada dalam materi kuliah Psikologi Pendidikan tentang energy psikis – yang jumlah semuanya ada sepuluh[1] - diantaranya ada pengamatan dan tanggapan. Pengamatan adalah Mengenal dunia riil baik dirinya maupun dunia sekitarnya dengan menggunakan panca indra (itu pengertian secara ilmiah saja, sederhananya, proses mengamati, melihat, mendengar dan atau  memperhatikan lingkungan sekitar). Sedangkan Tanggapan adalah Bayangan yang tinggal dalam ingatan setelah kita melakukan pengamatan. Menanggap adalah melakukan kembali sesuatu perbuatan atau melakukan sebelumnya sesuatu perbuatan tanpa hadirnya obyek fungsi primer yang merupakan dasar modalitas pengamatan. Intinya tanggapan adalah hasil dari pengamatan (gitu aja). 
Proses terjadinya tanggapan:
Pengamatan= mengenal objek PI à Bayangan pengiring= Bayangan tetap tinggal à Bayangan eiditik[2]= seakan riel (anak2) à Tanggapan= kesan dalam memori kita à Pengertian=  konsep yang dpt disimpulkan.

Setelah terjadi tanggapan memudian akan diperoleh pengertian. Tanggapan akan mempengaruhi pengertian (Insighty) yg diperoleh. Fungsi tanggapan: (a) Tergantung kuat tidaknya rangsang pengamatan kita. (b) Tanggapan akan membentuk pengertian dan pemahaman. (c) Menentukan kuat tidaknya memori.

Sedangakan hubungan keduanya (pengamatan dan tanggapan) adalah Tanggapan berkorelasi dengan pengamatan (makin baik pengamatan makin baik tanggapan.

Jadi, semakin baik kita dalam mengamati maka semakin kuat dan baik ingatan terhadap sesuatu yang kita amati tersebut. Seperti itulah proses kita dalam belajar - secara khusus, dan dalam kehidupan harian – secara umum. Jadi memang benar-benar terjadi (berdasar pengalaman saya sendiri, sebenarnya sudah lama saya amati seperti itu, sejak SMP ^_^)

Sehingga, marilah kita sadar (wahai diri), jangan tidur terus di kelas, belajar baik-baik untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. jangan menyepelekan ilmu sedikit pun, sekecil apa pun, karena pasti kelak (suatu hari – entah kapan) akan bermanfaat.
Nah ini ternyata manfaat dan penerapan psikologi pendidikan, yang tadi kau (saya) bilang “aneh”. Weheheh *ampun pak dosen.

Dan selanjutnya dalam materi Psikologi pendidikan akan dijelaskan tentang ingat, lupa dan asosiasi, yang merupakan kelanjutan dari pengamatan dan tanggapan. Disitu disebutkan apa saja yang mempengaruhi ingat dan lupa, tapi tidak saya tulis disini berhubung sudah ngantuk, waktunya tidur dan besuk masih ada ujian mata kuliah lain (UTS itu makan yang banyak, tidur yang cukup, belajar semampunya, wkwk).

Well, bye, wassalam*

*gara-gara nulis ini saya jadi nggak belajar buat ujian besok pagi T.T but, All is well

NB: kepada pak dosen Psikologi Pendidikan, Ustadz Hadjam Murusdi, terimakasih atas ilmunya J




[1] (1) Pengamatan, tanggapan, fantasi, (2) ingatan, lupa, dan asosiasi, (3) perhatian, (4) berpikir, (5) intelegensi, (6) perasaan dan emosi, (7) motive dan tingkah laku, (8) kepribadian, (9) sugesti dan (10) kelelahan
[2] Merupakan bayangan yang sangat jelas dan hidup, sehingga menyerupai pengamatan. Bayangan eiditik terdapat pada anak-anak dan menghilang dengan datangnya masa pubertas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar