Rabu, 23 November 2016

beda sedikit antara zaman sekarang dengan zaman Rasulullah

23/11/16 21.30 pm
Puasa Rasulullah
Pasti pernah kan mendengar kisah Rasulullah dan ‘Aisyah, ketika Rasulullah mendapati tidak ada bahan makanan yang bisa dimakan maka ketika itu juga Rasulullah berniat puasa. Kisah tersebut diriwayatkan dalam sebuah hadits riwayat muslim dari Aisyah ra.,
Dari ‘Aisyah Ummul Mukminin, ia berkata, “Nabi saw  pernah menemuiku pada suatu hari lantas beliau berkata, “Apakah kalian memiliki sesuatu untuk dimakan?” Kami pun menjawab, “Tidak ada.” Beliau pun berkata, “Kalau begitu saya puasa saja sejak sekarang.” Kemudian di hari lain beliau menemui kami, lalu kami katakan pada beliau, “Kami baru saja dihadiahkan hays (jenis makanan berisi campuran kurman, samin dan tepung).” Lantas beliau bersabda, “Berikan makanan tersebut padaku, padahal tadi pagi aku sudah berniat puasa.” Lalu beliau menyantapnya.” (HR. Muslim no. 1154) disebutkan dalma Kitab Bulughul Maram karya Ibnu Hajar al-Asqalani no. hadits 657
Adapun penjelasan maupun faedah hadits tersebut dapat dilihat di alamat berikut:
kisah tersebut sama pernah terjadi di asrama kami, tepatnya hari rabu malam dan besoknya hari kamis puasa sunnah. Memang sunnah tapi karena di pesantren jadi diwajibkan. Tradisi kami, makanan untuk makan sahur dimasak pada malam harinya. Jadi ketika sahur tinggal memanaskan kembali.  Nah ini ceritanya, ketika malamnya – sekitar pukul 21.30 -  beberapa orang dari kami mau masak nasi untuk sahur besok, untuk lauknya sudah dimasak oleh ibu dapur pada sorenya. Untuk masak nasi bergiliran dari kami, ada jadwalnya masing-masing. Ketika hendak masak nasi itu tadi, ternyata berasnya habis, yang piket sore untuk makan malam lupa memberi tahu kepada orang yang suka berbelanja untuk kami. Karena waktu sudah malam, tidak etis rasanya mengetuk rumah orang ataupun ke warung, karena memang lokasi kami di tengah-tengah kampung – jangan dibayangkan seperti di kota yang ada market 24 jam.
Sudah, karena mengetehui tidak ada beras yang bisa dimasak untuk sahur, langsung anak-anak merengek kepada ustadzah supaya puasanya diliburkan, padahal lauknya sudah dimasak hanya saja tidak ada nasi.
Kita lihat dari dua kisah di atas yaitu kisah Rasulullah dan kisah kami, Cuma beda sedikit to, jika Rasulullah tidak ada bahan makanan yang bisa dimakan kemudian beliau puasa, maka pada zaman sekarang ini khusunya kami, tidak ada beras untuk dimasak maka kemudian tidak jadi puasa, padahal lauk sudah ada. Dan sebenarnya kalau memang berniat puasa masih ada alternatif lain, makan nasi malan ini, misalnya, atau bikin mie instan, wong ada nasi dan lauk saja belum tentu pada sahur, ada yang lebih memilih tidur – karena saking ngantuknya – dari pada sahur. Jadinya bedanya hanya pada kata tidak, jika rasulullah puasa maka kami tidak puasa.
Begitulah sepenggal kisah pengalaman anak pondok, yang akan selalu membekas, tidak akan didapatkan di tempat lain. bersyukur rasanya bisa merasakan nikmat menjadi anak pondok, meski kadang-kadang suka protes dengan segala peraturan yang ada. Mungkin sekarang belum terlihat hasilnya, tapi suatu hari nanti, saya yakin kelak akan sangat bermanfaat dalam kehidupan ini, baik dunia maupun kehidupan akhirat nanti yang merupakan hakikat kehidupan yang sebenarnya.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar