Senin, 26 September 2016

Edmund Husserl dan Fenomenologinya

Sekilas tentang Edmund Husserl dan Pemikirannya
Oleh Qurrata A’yun
1.      Pendahuluan
                   Mempelajari filsafat tidak akan lepas dari bagaimana filsafat itu muncul. Sekitar abad IX SM atau paling tidak tahun 700 SM di Yunani, Sophia diberi arti kebijaksanaan juga berarti kecakapan. Kata philosophos mula-mula dikemukakan dan dipergunakan oleh Heraklitos (540-480 SM). Menurutnya, philosophos (ahli filsafat) harus mempunyai pengetahuan luas sebagai pengejawantahan daripada kecintaannya akan kebenaran, dan mulai benar-benar jelas digunakan pada kaum Sofis dan Sokrates yang memberi arti philosophein[1] sebagai penguasaan secara sistematis terhadap pengetahuan teoritis.[2]
                   Sejarah filsafat menunjukkan bahwa setelah timbulnya seorang filsuf timbul kemudian filsuf yang lain, yang mengajukan gagasan yang memperbaharui gagasan yang pertama.[3] Pada umumnya pada bagian pertama abad ke-20 terdapat bermacam-macam aliran yang berdiri sendiri-sendiri. Pada zaman paroh pertama abad ke-20 ini umpamanya terdapat aliran pragmatisme di Inggris dan Amerika yang meragukan kekuasaan akal dan ilmu pengetahuan positif, sedang di Perancis dan Jerman terdapat filsafat hidup dan fenomenologi yang memberikan pengaruh yang besar di Eropa dan Amerika, dan aliran filsafat lainnya.[4]
                   Dalam makalah ini, sedikit banyak akan membahas filsafat fenomenologi khususnya Edmund Husserl (1859-1938) yang merupakan pelopor filsafat fenomenologi. Istilah fenomenologi pernah dipakai juga oleh Immanuel Kant dan G.W.F. Hegel, akan tetapi filsafat fenomenologi yang akan kita bicarakan ini dalam arti yang khas, yaitu sebagai metode berpikir tertentu. Filsafat fenomenologi berusaha untuk mencapai pengertian yang sebenarnya atau “hakikat segala sesuatu”[5] dengan menerobos semua fenomen
                   Adapun tujuan makalah ini disusun adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah “Pengantar Filsafat” yang diampu oleh Ustadz Anton Ismunanto.

2.      Pembahasan
A.    Riwayat hidup Edmund Husserl (1859-1938)
             Lahir di kota Prosznitz di daerah Moravia (sejak akhir perang dunia pertama (1918) sampai sekarang termasuk Cekoslowakia). Masa muda dilaluinya dengan belajar astronomi dan matematika di Leipzig dan Berlin tempat ia memperoleh gelar doktor dalam bidang matematika. Semula ia belajar ilmu pasti di Wina, kemudian ia berpindah studi ke filsafat (1884-1886).[6] Minatnya untuk filsafat dibangkitkan oleh kuliah Franz Brentano.[7] Pengaruh Brentano atas pemikiran Husserl dapat dilihat dalam pemikiran filsafat Husserl khususnya ajaran tentang intensionalitas.[8]
             Husserl meraih gelar “doktor filsafat” dengan sebuah disertasi tentang filsafat matematika yang berjudul Beitra gezur Variationsrechmung (1883). Sesudah itu ia menjadi dosen (Privatdozent) di Halle (1887-1901).[9] Di situ ia meneruskan penelitiannya dan sebagai hasil studinya diterbitkan buku Philosophie der Arithmetik  (1891) (filsafat ilmu berhitung). Sepuluh tahun kemudian Husserl merevisi pemikirannya tentang filsafat matematika, antara lain karena kritik G. Frege – filsuf dan matematikus ternama – atas buku yang disebut tadi. Selain mengajar di Universitas Halle, ia juga menjadi guru di Gottingen (1901-1916) dan Freiburg (I.B) (1916).[10] Ia mendapat pengakuan internasional waktu mengajar di Freiburg.[11] Termasuk di antara mahasiswa-mahasiswanya adalah Max Scheller dan Martin Heidegger.[12]
             Pada akhir hidupnya Husserl mengalami kesulitan dari pihak nazisme Jerman, karena ia keturunan Yahudi. Ia dilarang menginjak kampus Universitas Freiburg, demikian juga anaknya. Kewarganegaraan Jermannya dicabut, tetapi atas usahanya akhirnya dipulihkan. Banyak cendekiawan Yahudi mengungsi ke luar negeri, tetapi Husserl menolak meninggalkan Jerman. Sesudah hampir setahun menderita sakit, ia meninggal dunia di Freiburg pada tanggal 27 April 1938 dalam usia 79 tahun.

B.     Karya Husserl
Banyak sekali karya-karyanya, akan tetapi belum semuanya diterbitkan. Beberapa karya Husserl yang pernah diterbitkan selama hidup adalah:
-        Filsafat Aritmatik (1891)
-        Penyelidikan Logika, dua jilid (1900-1991) atau Logische Untersuchungen, boleh dianggap buku ini sebagai permulaan fenomenologinya. Dalam jilid pertama ia mengkritik psikologisme dalam filsafat tentang logika.[13]
-        Ide mengenai fenomenologi murni dan sebuah filsafat fenomenologi, jilid 1 (1913). Jilid 2 dan 3 (1952) atau ideen zu einer reinen phanomenologie
-        Krisis Ilmu Pengetahuan & Fenomenologi Transendental  (1929), tetapi hanya sebagian terbit sewaktu ia masih hidup.
-        Pengalaman Dan Pertimbangan (1930) atau  erfahrung und urteil.
-        Filsafat Sebagai Ilmu Rigorus  atau Philosophie als strenge Wissenchaft (1911).
Saat meninggal, Husserl meninggalkan sekitar 50.000 lembar tulisan berupa naskah, catata kuliah, surat serta dokumen pribadi.[14] Arsip-arsip tersebut kemudian diterbitkan, diantaranya adalah: Ide mengenai Fenomenologi (1950), Filsafat Pertama, Psikologi Fenomenologis (1956), Fenomenologi Kesadaran Waktu Mengenai Waktu (1966), Analisis Sintesis Pasif (1966), Pengalaman dan Keputusan (1939), Dunia Saya dan Waktu (1955)[15]
Sampai akhir hidupnya Husserl mempunyai kebiasaan berpikir sambil menulis dengan menggunakan tulisan stenografis[16]. Ketika Husserl masih hidup, transkripsi tulisan stenografi ke dalam tulisan biasa sudah dimulai oleh asisten-asistennya (Edith Stein, Ludwig Landgrebe, dan Eugen Fink) tetapi hanya sedikit diselesaikan oleh mereka.[17]

C.    “Arsip Husserl” di Leuven
Tidak lama sesudah kematian Husserl, Pater H.L. Van Breda O.F.M. tiba di Freiburg untuk mempelajari naskah Husserl untuk persiapan disertasinya tentang fenomenologi. Dengan persutujuan Nyonya Husserl, seluruh harta pusaka karangan Husserl dipindah ke Universitas Leuven (Belgia). Alasannya adalah semua tulisannya terancam bahaya akan disita oleh penguasa nasional – sosialis, karena merupakan warisan filsuf Yahud. Pemindahan ini menjadi permulaan berdirinya “Arsip Husserl” di Leuven, dimana terdapat dokumentasi terbesar dalam sejarah dikumpulkannya tentang para filsuf yang dikunjungi oleh banyak filsuf yang berminat pada fenomenologi. Pada tahun 1980, “Arsip Husserl” menerbitkan inedita (teks-teks yang belum pernah diterbitkan oleh pengarang sendiri) sebanyak 23 jilid yang disebut dengan edisi husserliana. Arsip juga menerbitkan seri Phaenomenologica pada tahun 1978 sebanyak 78 jilid.[18]

D.    Pemikiran Filosofis
Husserl merumuskan cita-citanya ingin mendasari filsafat sebagai suatu ilmu yang rigorous (rigorous science) dan kepada ilmu ini ia beri nama “fenomenologi”.  Fenomenologi adalah ilmu pengetahuan (logos) tentang yang tampak (phainomenon). Jadi fenomenologi mempelajari apa yang tampak atau yang menampakkan diri atau fenomen.[19]
Menurut Husserl, perhatian filsafat hendaklah difokuskan pada penyelidikan tentang lebenswelt (dunia kehidupan) atau erlebnisse (kehidupan subyektif dan batiniah). Karena dunia tidak dapat memberikan kebenaran yang pasti, maka kita perlu mencarinya dalam erlebnisse (pengalaman yang sadar). Fenomenologi Husserl berangkat dari konsep intensionalitas. Semua kesadaran merujuk pada suatu isi, entah itu nyata atau khayalan. Contoh kasusnya adalah seseorang yang takut pada hantu. Orang yang takut pada hantu adalah kenyataan, tidak peduli apakah kita percaya pada hantu atau tidak.
Hussserl menjelaskan bahwa intensionalitas pikiran seseorang tidak dapat memisahkan kondisi kesadaran (contohnya adalah rasa takut) dari obyek kesadaran itu (hantu). Keduanya (takut dan hantu) adalah aspek dari fenomenologi tunggal, sehingga Husserl menyimpulkan bahwa kesadaran adalah “perhatian terhadap obyek”. Karena pengetahuan terhadap sesuatu diperoleh melaui perhatian kesadaran terhadap obyek, ilmu pengetahuan diperoleh dengan cara sadar bermaksud untuk menguasai ilmu pengetahuan itu. Maksud secara sadar untuk mengetahuai itulah, meminjam istilah dari Kant, yang disebut “prakondisi yang diperlukan untuk menguasai ilmu pengetahuan melaui pengalaman” (the necessary preconditions of experience).
Husserl kemudian menyadari bahwa dirinya menghadapi masalah ketidakpastian terhadap “dunia luar” yang diamati, sama seperti yang dialami Descartes sehingga Descartes menyimpulkan cogito ergo sum (saya berpikir, maka saya ada).
Fenomenologi (menurut Husserl) merupakan metodologi dan filsafat. Sebagai metode, fenomenologi membentangkan langkah-langkah yang harus diambil sehingga sampai pada fenomena yang murni dengan cara harus membebaskan diri dari pengalaman serta gambaran kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, fenomenologi dapat dijelaskan sebagai metode kembali kepada benda itu sendiri, dengan menerobos semua fenomenon yang menampakkan diri menuju kepada bendanya yang sebenarnya. Aspek fenomenologi Husserl yang berusaha menggali perangkat hukum kesadaran manusiawi yang esensial serta kait-mengait disebut “fenomenologi Transendental”.[20] Usaha untuk mencapai pengertian yang sebenarnya dinamakan mencapai “hakikat segala sesuatu”
Adapun usaha untuk mencapai hakikat segala sesuatu dapat melaui reduksi atau penyaringan yang terdiri dari 3 tahap, yaitu
1.      Reduksi fenomenologi, harus menyaring pengalaman-pengalaman dengan maksud mendapat fenomena dalam wujud yang murni. Kita harus melepaskan benda-benda tersebut dari pandangan-pandangan lain (agama, adat, ilmu pengetahuan, dan ideologi).
2.      Reduksi eidetis, menyaring atu penempatan dalam tanda kurung sebagai hal yang bukan eidos atau intisari atau hakikat fenomena. Hasil reduksi eidetis ialah kita sampai pada hakikat sesuatu.
3.      Reduksi tansendental, kita sampai pada subyek murni. Semua yang tidak ada hubungannya dengan kesadaran murni harus dikurungkan. Dari obyek itu akhirnya orang sampai kepada apa yang ada pada subyek sendiri. Dengan kata lain, metode fenomenologi itu diterapkan karena subyeknya sendiri, pada perbuatannya, dan pada keasadaran yang murni.[21] Yang harus ditempatkan di antara tanda kurung dahulu ialah eksistensi dan segala sesuatu yang tiada hubungan timbal balik dengan kesadaran murni, agar supaya dari obyek itu orang sampai kepada apa yang ada pada subyek sendiri dan kepada perbuatannya, kepada kesadaran yang murni.[22]
Kebanyakan murid Husserl tidak menerima reduksi ini, tetapi untuk Husserl sendiri reduksi merupakan batu sendi seluruh filsafatnya. Dengan mempraktekkan reduksi ini kita masuk “sikap fenomenologi”. Berlainan dengan pemikiran Descartes, Husserl tanpa lelah menggali semakin dalam untuk mencari pendasaran terakhir bagi kesadaran dan realitas. Husserl mengatakan bahwa dirinya adalah ein ewige Anfanger (seorang pemula abadi). Jika ia terbentur pada kesulitan baru, ia tidak membuang pemikirannya sebelumnya, tetapi seluruh permasalahannya diselidiki kembali pada taraf yang lebih mendalam. Itulah sebabnya, mengapa filsafat Husserl begitu sulit untuk diuraikan, apalagi dalam bentuk singkat.[23]
Istilah lain yang sering dipakai Husserl (selain fenomen dan intensional) adalah “konstitusi” (Inggris: constitution), yaitu proses tampaknya fenomen-fenomen kepada kesadaran atau aktivitas kesadaran yang memungkinkan tampaknya realitas. Husserl mengatakan bahwa dunia real dikonstitusi oleh kesadaran.[24] Dalam sikap fenomenologis, dunia ditemukan sebagai korelat bagi kesadaran, dunia sebagai fenomen.

Metodologi fenomenologi
Untuk memahami filsafat Husserl, ada beberapa kata kunci yang perlu diketahui:
1.      Fenomena adalah realitas esensi atau dalam fenomena terkandung pula nomena (sesuatu yang berada di balik fenomena),[25]
2.      Pengamatan adalah aktifitas spiritual atau ruhani,
3.      Kesadaran adala suatu intensional (terbuka dan terarah pada subyek),
4.      Substansi adalah konkret yang menggambarkan isi dan struktur kenyataan dan sekaligus bisa terjangkau.
Dalam memahami fenomena, Husserl menekankan satu hal penting: penundaan keputusan. Keputusan harus ditunda (epoche) atau dikurung (bracketing) dulu untuk memahami fenomena, sampai akhirnya fenomena itu dapat menampakkan dirinya sendiri. Misalnya, kita ingin mengembangkan analisis fenomenologi mengenai “perilaku politik kiai”. Maka kita harus menunda atau melepaskan dulu semua keputusan atau pengetahuan tentang kiai (missal kiai itu suci, pengetahuan agamanya luas, tawaduk dan lain sebagainya) dan kita mengarah perhatian kita pada perilaku yang tampak pada kesadaran yang kita alami.  Apabila kita dapat melakukan ini, kita akan sampai pada perilaku politik yang sesungguhnya.[26]
Dalam pengalaman yang dengan sadar ini kita mengalami diri kita sendiri atau “aku” yang senantiasa berhubungan dengan dunia luar dengan situasi jasmaniyah tertentu, misalnya: aku sedang duduk, membaca, bercakap-cakap, dan lain sebagainya. Di situ kita akan bertemu dengan pengalaman “aku”. Tetapi perlu dipikirkan aku empiris yang tidak murni karena bergaul dengan dunia benda. “Aku” ini harus dikurung dan kemudian kita menuju aku murni yang mengatasi semua pengalaman Transendental .[27]
E.     Penutup
Husserl menekankan bahwa filsafat seharusnya berproses seperti ilmu pengetahuan pada umumnya, yaitu berangkat dari topik dan masalah yang nyata dan bukan hanya studi terhadap filsafat orang lain. Meskipun begitu, Hussserl juga memahami bahwa urusan ilmiah filsafat bukan suatu yang empiris, tetapi lebih pada eksplorasi konseptual dari persepsi, kepercayaan, penilaian, dan proses mental lainnya. Seperti halnya Descartes, Husserl mempercayai bahwa filsafat pada dasarnya merupakan urusan rasionalitas yang dimulai dari kepercayaan seseorang dan bersifat subyektif. Dengan refleksi dari berbagai kesadaran orang tersebut, Husserl percaya bahwa fenomenologi mampu menjadi dasar bagi semua ilmu pengetahuan, seperti imu pengetahuan ilmiah dan eksak[28]
Demikianlah filsafat fenomenologi yang dikemukakan Husserl ini bermuara dalam suatu idealisme Transendental . Tidak semua filsuf fenomenologi berpendapat demikian. Pada umunya mereka realistis.
Tidak dapat disangkal, bahwa pengaruh Husserl besar sekali, baik di bidang filsafat maupun di bidang ilmu pengetahuan positif. Metode fenomenologis menyebabkan timbulnya persoalan persoalan baru yang berguna.[29]




[1] Philosophia adalah hasil dari perbuatan yang disebut philosophein, sedangkan philosophos adalah orang yang melakukan philosophein
[2]Sumber: http://makalahzaki.blogspot.co.id/2011/10/filsafat-barat.html?m=1 diakses pada: 24/12/15, 21:00 WIB
[3] Harun Hadiwijoyo, Sari Sejarah Filsafat Barat 1, Yogyakarta, Kanisius 2000, h. 8
[4] Harun Hadiwijoyo, Sari Sejarah Filsafat Barat 2, Yogyakarta, Kanisius 2000, h. 130
[5] Ali Maksum, Pengantar Filsafat, Yogyakarta, Ar-Ruzz Media 2012, h. 187
[6] Ibid, h. 189
[7] seorang filsuf yang memainkan peranan penting di Universitas Wina waktu itu.  Dalam filsafatnya, franz menggabungkan pemikiran Skolastik dengan empirisme (doktrin yang menyebutkan bahwa segala pengetahuan bisa didapatkan hanya dengan melalui pengalaman, bukan berdasarkan logika dan matematika). Tidak sulit untuk memperlihatkan pengaruh Brentano atas pemikiran Husserl di kemudian hari, khususnya ajaran tentang intensionalitas, intensionalitas adalah struktur hakiki kesadaran, kesadaran ditandai oleh intensionalitas. Intensionalitas dan fenomenon adalah korelatif.
[8] K. Bertens, Filsafat Barat Abad XX Inggris-Jerman, Jakarta, PT Gramedia Jakarta 1981, h. 94
[9] Privatdozent adalah nama yang dipakai di universitas-universitas Jerman untuk seorang dosen yang diizinkan mengajar di universitas tetapi tidak diberi gaji oleh universitas. Ia hidup dari kuliah-kuliah yang diberikannya.
[10] Harun Hadiwijoyo, Sari Sejarah Filsafat Barat 2, Yogyakarta, Kanisius 2000, h. 140
[11] K. Bertens, Filsafat Barat Abad XX Inggris-Jerman, Jakarta, Gramedia 1981, h. 97
[12] Ali Maksum, Pengantar Filsafat, Yogyakarta, Ar-Ruzz Media 2012, h. 189
[13] K. Bertens, Filsafat Barat Abad XX Inggris-Jerman, Jakarta, Gramedia 1981, h. 95
[14] Ibid, h. 98
[15] Ali Maksum, Pengantar Filsafat, Yogyakarta, Ar-Ruzz Media 2012, h. 189
[16] dikenal sebagai Gabelsberger stenografi
[17] K. Bertens, Filsafat Barat Abad XX Inggris-Jerman, Jakarta, Gramedia 1981, h. 98
[18] Ibid, h. 98
[19] Ibid, h. 100
[20] Ali Maksum, Pengantar Filsafat, Yogyakarta, Ar-Ruzz Media 2012, h. 191
[21] Ibid, h. 192
[22] Fenomenologi sebagai suatu ilmu rigorus rigorus tidak boleh mengandung keraguan atau ketidak-pastian. Akan tetapi kriteria rigorus tidak pernah terpenuhi dalam ucapan-ucapan kita tentang dunia real. Suatu benda material tidak pernah diberikan kepada kita secara apodiktis dan absolute, maka dibutuhkan reduksi sebagai salah satu cara untuk mencapai “hakikat segala sesuatu”
[23] K. Bertens, Filsafat Barat Abad XX Inggris-Jerman, Jakarta, Gramedia 1981, h. 100
[24] Ibid, h. 102
[25] Sedang menurut Kant, manusia hanya mengenal fenomenon dan bukan numenon, kita hanya mengenal fenomen-fenomen (erscheinungen) dan bukan realitas itu sendiri (das Ding an sich). Kita hanya mengenal pengalaman batin kita sendiri yang diakibatkan oleh relitas di luar yang tetap tinggal suatu x yang tidak kita kenal. Sebagai contoh, melihat warna merah adalah pencerapan (sensation) – pengalaman batin – yang diakibatkan oleh sesuatu di luar.
[26] Ali Maksum, Pengantar Filsafat, Yogyakarta, Ar-Ruzz Media 2012, h. 191
[27] Ibid, h. 193
[28] Kumara Ari Yuana, The Greatest Philosophers, Yogyakarta, ANDI 2010, hal. 287
[29] Harun Hadiwijoyo, Sari Sejarah Filsafat Barat 2, Yogyakarta, Kanisius 2000, h. 144